dokter keuangan
dokter keuangan
octa vaganza

Ventriloquis, Seni Suara Perut Minim Peminat

Regenerasi di kalangan seniman suara perut (ventriloquist) memang seret. Soalnya, sangat diperlukan bakat besar untuk menguasai seni yang nun di masa lampau dianggap sihir ini. Tuntutannya jauh lebih kompleks ketimbang seniman stand up comedy.

VENTRILOQUISM  tidak terlalu terdengar. Soalnya, sangat sedikit pelaku seni yang terjun ke dunia ini. Istilah Latin yang rada sulit dilafalkan itu padanan katanya “suara perut”. Seseorang berbicara tanpa menggunakan mulut dan tanpa menggerakkan bibir. Pelaku seni ini disebut ventriloquist. Biasanya, mereka bertindak sebagai aktor tunggal dan menggunakan boneka ketika beraksi.

Seni ventriloquism dapat digunakan untuk menghibur, mengajar, serta berpromosi. digemari mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua karena pada umumnya dibawakan dalam bentuk komedi. Gampangnya, tunjuk saja Ria Enes dan boneka Susan-nya, Gatot Soenjoto dengan Tongki-nya. Atau seniman yang lebih yunior: Budi HaHa dan Jerry Piko dengan tiga boneka populernya.

Ventriloquisme berasal dari kata Latin venter (perut), loqui (berbicara), dan ism (ilmu atau paham). Ada dua jenis ventriloquism, yaitu: “Near Ventriloquism”. Ini suara perut jarak dekat digunakan ketika seorang ahli suara perut/sulap suara (ventriloquis) menggunakan keahliannya untuk membuat satu (atau lebih) boneka seakan dapat berbicara; dan “Distant Ventriloquism”, yakni suara yang (dihasilkan) seolah-olah berasal dari tempat yang jauh atau dari ruangan yang lain—teknik ini jauh lebih sulit.

Sejatinya, ventriloquism sudah ada sejak abad ke-6 SM. Di Abad Pertengahan, ventriloquism dianggap sebagai sihir. Suara-suara yang dihasilkan oleh perut dianggap suara-suara arwah/orang mati yang mengambil perut para ventriloquist sebagai wadah. Si ventriloquis kemudian menafsirkan suara itu, karena mereka dianggap ‘terhubung’ dengan orang mati, serta (mampu) meramalkan masa depan seseorang.

Memasuki abad ke-19, ventriloquism lebih diterima sebagai pertunjukan panggung. Tidak dipakai lagi dalam praktik keagamaan. Di zaman modern, ventriloquism lebih dikenal dengan seni hiburan panggung yang dipadukan dengan pertunjukan sulap dan acara TV. Tidak hanya hiburan, ventriloquism juga digunakan sebagai sarana edukasi dan promosi. Para ventriloquis dunia pun bermunculan.

Yang membawa dan mengajarkan seni ini di Tanah Air adalah puak Belanda, ketika mereka datang untuk menjarah hasil bumi dan menjajah wilayah Nusantara. Tokoh tersohor yang memelopori ventriloquism Indonesia adalah Marijoen V.M dengan boneka Koko-nya (dahoeloe ditulis Coco). Mereka yang lahir setelah era 1940-an niscaya tak sempat melihat aksinya, kecuali kenal nama Marijoen.

Gatot Soenjoto  seakan ahli waris Mariojoen. Pengarang lagu “Gubahanku” ini dikenal sebagai seniman serba bisa. Selain itu, Gatot juga dikenal sebagai pemusik, penyanyi, MC, impersonator, dan juga ventriloquisme dengan boneka Tongki-nya. Gatot Soenjoto pertama kali menonton ventriloquist tahun 1966 di TIM yaitu Marijoen V.M. dengan si boneka Koko. Gatot lantas secara khusus belajar ventriloquism di New York tahun 1974. Sepulang ke Indonesia Gatot banyak mempelajari buku sulap suara Pada tahun 70-an hingga 80-an, Gatot Soenjoto menjadi pembawa acara anak-anak di Televisi Republik Indonesia.

Gatot Soenjoto selalu ditemani Tongki, bonekanya yang sering melontarkan komentar lucu. Ia selalu memerankan karakter yang berbeda dengan menggunakan kostum sesuai karakter yang dimainkannya. Ia juga mempertunjukkan keahliannya sebagai pemusik, penyanyi, pesulap dan ahli suara perut. Sampai akhir hayatnya, 21 Desember 2012, Gatot Soenjoto terus berkiprah di dunia seni.

Kehadiran Gatot Soenjoto memancing munculnya ventriloquist lainnya.Di akhir era Gatot, muncul satu sosok yang mirip ventriloquist, dia adalah Ria Enes (50) dengan boneka Susan. Dikatakan mirip ventriloquist karena sering terlihat bergerak bibirnya saat Susan berbicara. Ria tidak sengaja berkecimpung di dunia ventriloquism Indonesia.

Ria  semula penyiar (dari Radio Carolina Surabaya pindah ke Radio Suzana), penyanyi, dan pembawa acara. Awal tahun 1990-an, ia berada di puncak popularitas. Pemilik nama asli Wiwik Suryaningsih ini mendapat respon positif atas suara Suzan, anak kecil berkarakter centil, cerewet, nakal, dan celometan tapi cerdas dan menghibur. Ria kebanjiran tawaran off-air. Seorang produser rekaman memintanya rekaman lagu anak-anak. Album perdananya Si Kodok meledak di pasaran, 1991. Berturut-turut setelah itu lahir album Kodok dan SemutSuzan Punya Cita-Cita. Sepanjang 19912004, ia telah meluncurkan 12 album.

Dunia ventriloquism Indonesia diramaikan oleh Budi HaHa dan Jerry Piko yang muncul di tahun 2000-an. Budi HaHa mengambil program sertifikasi keahlian suara perut dari Ventriloquist in Training Program di International Festival di Illinois, Amerika. Adapun Jerry beraksi dengan boneka Piko si burung, Brenda si Kudanil dan Dennies si anjing Itulah tiga boneka populer di antara 10 bonekanya.

Jerry Piko kini mempunyai 10 boneka. Tapi hanya tiga yang menarik perhatian publik. Yakni, Piko si burung, Brenda si kuda nil, dan Dennies si anjing. Jerry juga menyadari, tidak mudah membuat orang tertawa lepas. Karena itu, sebelum tampil, dia harus tahu karakter umum penonton.

Penghibur yang baik harus kreatif dan tidak takut beraksi. Hal itu mutlak dimiliki. Sebab, menembus pangsa hiburan di Indonesia tidak mudah. Itu pula yang membuat Jerry selalu berusaha mencari hal-hal baru. ’’Sekali berhasil, semacam dapat durian runtuh plus bonus diundang ke mana-mana,’’ tuturnya. Jerry tidak hanya mahir tampil bersama boneka. Dia juga andal membawakan seni sulap, topeng mulut, dan changing face.

Dibanding beragam bentuk ekspresi seni yang lain, perkembangan ventriloquism tergolong sangat lambat perkembangannya di Indonesia. Secara teknis, seni suara perut ini memang tergolong sulit dipelajari. Di ajang pementasan, si seniman ventriloquist harus berperan sebagai aktor tunggal yang piawai mengolah suara perut di samping sekaligus punya punch line comedy.●(dd)