hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

USAID Apresiasi Buku Karya Kamaruddin Batubara

JAKARTAUnited States Agency for International Development (USAID) mengapresiasi buku Skim Pembiayaan Sanitasi dan Air karya Presiden Direktur Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).

Deputy Mission Director USAID Indonesia, William Slater buku ini merupakan buku praktik terbaik yang dapat dijadikan contoh bagi lembaga lain. Buku ini sejalan dengan misi USAID mendukung Indonesia untuk mencegah dan merespons krisis kesehatan masyarakat.

“Kegiatan kami membantu lebih banyak ibu melahirkan bayi yang sehat dan memperluas akses terhadap air bersih, higiene, dan sanitasi bagi masyarakat yang paling memerlukannya,” ujar William dalam sambutannya pada acara peluncuran buku yang kini diterbitkan Gramedia di Ballroom A, Hotel Shang-La, Jakarta, Kamis (23/9/21).

William menilai buku inisarat dengan cerita dan pengalaman Kopsyah BMI memberikan pembiayaan sanitasi dan air di luncurkan. USAID  terjun dalam Sasaran akses air minum yang semakin baik, membangun kesadaran masyarakat akan pengtingnya akses air bersih dan sanitasi.

Pembangunan 2030 air dan sanitasi. Saat ini USAID USAID IUWASH PLUS bekerja sama dengan 35 Pemerintah Daerah di Indonesia yang tersebar di 8 provinsi.

“Sampai saat ini kami bekerjasama dengan 18 lembaga keuangan dan telah melibatkan 18.000-an keluarga berpenghasilan rendah” pungkasnya.

Peluncuran buku dihadiri oleh Ahmad Zabadi (Deputi Perkoperasian Kemenkop), William Slater (Deputy Mission Director USAID Indonesia), Tri Dewi Virgiyanti (Direktur Perumahan dan Pemukiman Kementerian PPN/Bappenas), Ludiro (Direktur Sistem Manajemen Investasi Kementerian Keuangan) dan penulis buku sekaligus Presiden Direktur Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara.

Disiarkan melalui live streaming chanel youtube @airsanitasi dan link zoom, peluncuran buku ini sangat istimewa. Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan buku Skim Pembiayaan Mikro Tata sanitasi dan Mikro Tata Air oleh Ahmad Zabadi.

Apresiasi yang sama juga diberikan Direktur Perumahan dan Pemukiman Kementerian PPN/Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti . Dalam sambutannya, dia mengatakan bahwa saatnya aspek layanan air minum melalui pembiayaan harus ditingkatkan.

Tri menilai ada 5 hal yang perlu diperhatikan antara lain : pengelolaan, regulasi, kesadaran masyarakat (kemauan masyarakat), dan pembiayaan.

“Kita harus mengupayakan mulai dari pengelolaan yang baik, regulasi yang baik, kesadaran masyarakat harus ditingkatkan dan pembiayaan” kata  Tri Dewi.  

Buku ini agar menjadi contoh bagi praktik pembiayaan skim sanitasi dan air.  Semua pihak harus berperan membentuk masyarakat yang sehat. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mewujudkan air minum layak dan aman serta membentuk masyarakat sehat.

“Saat ini masih ada 6,2 % atau hampir 17 juta buang air besar sembarangan. Ini tentu juga merupakan  potensi pasar bagi skim pembiayaan sanitasi dan air” jelas Tri Dewi.

Perluasan pembiayaan sanitasi dan air harus dilakukan,  bukan hanya dari koperasi tetapi juga lemb aga keuangan lainnya.  Dia  berharap Kemenkeu ikutan membentu hal ini.  

“Apresiasi saya berikan kepada Koperasi BMI yang telah menerbitkan buku semoga menjadi contoh baik bagi koperasi lain dan stakeholder lain” papar Tri Dewi.

Koperasi Berperan dalam Pengadaan Sanitasi  

Ahmad Zabadi (Deputi Perkoperasian Kemenkop) membacakan sambutan menteri Koperasi menyampaikan bahwa pentingnya air bagi kehidupan dan kebutuhan paling utama untuk tetap hidup.

Ketersediaan layanan dasar Sarana Air, Sanitasi, dan Higiene sangat penting untuk memastikan tersedianya pelayanan kesehatan yang berkualitas serta meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Jika sanitasi dan air buruk maka bisa saja terjadi stunting pada anak-anak kita” ujar Zabadi saat membacakan sambutan menteri.

Bappenas  mencatat kebutuhan dana sanitasi aman Rp275 triliun jika target SDGs air minum sanitasi dan air sampai pada setiap rumah tangga” ujarnya lagi.

Menkop melalui sambutan tertulis memberikan apresiasi kepada Kopsyah BMI dan Kamaruddin Batubara yang telah menerbitkan buku sebagai contoh keberhasilan koperasi dalam mengelola produk pembiayaan sanitasi dan air.

“Saya kira koperasi dapat menjadi saluran yang tepat untuk melakukan pembiayaan dalam sanitasi dan air ini. Contoh Koperasi BMI yang beranggotakan 280 ribu orang. Terbukti bahwa mereka yang bergabung pada Koperasi BMI semakin baik walaupun hanya berpendapatan  barangkali di bawah UMR” paparnya lagi.

Dipandu oleh Fifi Aleyda Yahya, presenter yang sudah malah melintang di stasiun TV, acara berlangsung sangat menarik apalagi dikemas dengan diskusi interaktif terkait dengan inisiatif fasilitas pendanaan untuk pembiayaan mikro air dan sanitasi untuk koperasi. Diskusi menghadirkan Ahmad Zabadi, Tri Dewi Virgiyanti dan Iman Widiyanto (Kasubdit Investasi Pemda/BUMD Dit.SMI Kemenkeu).

Kamaruddin Batubara mengatakan saat ini Kopsyah BMI terus melaksanakan pembiayaan sanitasi dan air. Bahkan untuk masjid, pesantren dan mushola Kopsyah BMI memberikan sanitasi dan air gratis.

Kamaruddin yakin koperasi merupakan lembaga yang paling tepat yang bisa menyalurkan pembiayaan sanitasi dan air.

“Anggota kita yang mengakses skim pembiayaan MTS dan MTA terbukti berjalan dengan baik. Dan kita senang dengan komitmen Kemenkeu yang akan memberikan alokasi dana bergulir untuk skim pembiayaan sanitasi dan air” ujarnya.

Sebelum acara dimulai redaksi melakukan wawancara dengan Kamaruddin tentang urgensi penerbitan buku MTS dan MTA.   Buku ini lahir dari  3 alasan penting, yakni konsepsional, peran koperasi dalam perekonomian dan pembangunan dan praktik bisnis. “ dari sisi konsepsionalkoperasi harus mampu membangun peradaban baru koperasi Indonesia.

Peradaban baru yang dimaksud antara lain koperasi harus besar, koperasi harus dikelola professional, koperasi wajib mandiri , koperasi harus berbasis pemberdayaan dan koperasi harus peduli sesama” ujar Kamaruddin membuka penjelasan soal isi buku.

 Buku ini juga lahir dari tuntutan praktik bisnis yang telah dilahirkan dan dikelola pihaknya. Koperasi harus mampu membuat bisnis yang menguntungkan dan memberikan manfaat kepada anggota dan masyarakat.

“Skim ini berasal dari produk Pembiayaan Mikro Tata Griya (MTG) di Kopsyah BMI. Pada  2014 karena perkembangan bisnis yang semakin baik dibentuk skim khusus yakni Skim Pembiayaan Mikro Tata Sanitasi dan Mikro Tata Air (MTS & MTA)” paparnya melanjutkan.

Buku MTS dan MTS juga memberikan informasi akurat, dengan memberikan data capaian dan praktek di Koperasi BMI bahwa Skim Pembiayaan Mikro Tata Sanitasi dan Mikro Tata Air (MTS & MTA) yang sangat dihindari oleh lembaga keuangan saat ini, ternyata menjadi bisnis yang menguntungkan secara profitabilitas dan memberikan kemanfaatan yang tinggi pada anggota dan masyarakat.

Lahirnya buku ini juga untuk mendorong pelaku bisnis yang terlibat dalam industri sanitasi dan air untuk lebih kreatif dalam mewujudkan 100 % akses layak air minum, pengurangan kawasan kumuh menjadi 0% dan pemenuhan 100% akses sanitasi layak.

Buku ini contoh nyata terbaik yang dilakukan pada Kopsyah BMI dalam menyusun program dari awal, menampilkan SOP (Standar Operasional Prosedur) sampai akhir sehingga koperasi atau lembaga keuangan lainnya yang ingin mengembangkan skim MTS MTA tidak lagi kesulitan mencari bentuk” ujarnya lagi.

“Bagi kita pelaku koperasi maupun lembaga keuangan lainnya tidak perlu ragu lagi mari membuat program atau skim pembiayaan sanitasi dan air” pungkas Kamaruddin

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate