hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Usai Resesi, Tahun Depan RI Bakal Hadapi Ancaman Serius

Pemulihan ekonomi diproyeksikan baru terjadi tahun depan, tapi penerimaan perpajakan masih menjadi tantangan dalam pencapaian target. Pasalnya, tingkat pengangguran yang masih tinggi pada 2021.

STRATEGI dan langkah kebijakan, termasuk kebijakan fiskal untuk tahun anggaran 2022, telah disusun. Mitigasi risiko ekonomi makro di tahun depan juga mulai diperhitungkan pemerintah. Dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Tahun 2022 dijelaskan, risiko terkait variabel makroekonomi; terutama mencakup pertumbuhan, demografi, harga komoditas sumber daya alam (SDA) dan sektor keuangan.

Perekonomian Indonesia 2022 diproyeksikan mengalami pertumbuhan, setelah pada 2020 dan 2021 mengalami tekanan yang cukup berat. Situasi serupa juga terjadi di dunia internasional, dengan proyeksi pertumbuhan PDB Amerika Serikat, Cina, dan Jepang yang mulai membaik yang disertai stabilitas pasar keuangan.

Meski begitu, perbaikan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan di negara maju tersebut berpotensi meningkatkan tingkat suku bunga global di tahun 2022. “Hal ini perlu diantisipasi dalam penentuan baseline asumsi dasar ekonomi makro di tahun 2022,” tulis dokumen tersebut.

Pasar komoditas, khususnya migas, pada 2022 juga diproyeksikan mengalami perbaikan. Namun dalam jangka menengah dan panjang perlu diantisipasi penurunan permintaan terhadap pemanfaatan minyak bumi akibat berkembangnya kebijakan green investment dan transisi energi global dari fossil fuel yang menjadi energi baru terbarukan

Pemulihan ekonomi diproyeksikan baru terjadi tahun depan, tapi penerimaan perpajakan masih menjadi tantangan dalam pencapaian target. Pasalnya, tingkat pengangguran yang masih tinggi pada 2021 akan menekan penerimaan perpajakan dari sektor PPh Orang Pribadi. Adapun penyerapan tenaga kerja pada 2022 juga masih dibayang-bayangi ketidakpastian (uncertainty).

“Kebijakan dalam memitigasi risiko penerimaan negara dari sektor PPh Orang Pribadi perlu dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” tulis dokumen itu. Ketidakpastian global di tahun depan juga dinilai pemerintah masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah dalam menghadapi tekanan pada penerimaan pajak, khususnya PPh Badan dan PPN

Tren shifting konsumsi berbasis digital akan berlanjut hingga 2022. Di satu sisi perdagangan digital berdampak positif terhadap efisiensi perekonomian, tapi di sisi lain dapat menyebabkan peningkatan shadow economy. “Dengan kondisi itu (shadow economy), ada risiko kehilangan basis pajak (tax base) atau wajib pajak khususnya PPN dan PPh Badan,” tulis dokumen itu.

Sumber risiko lainnya berasal dari tekanan harga minyak bumi. Proyeksi pemulihan perekonomian global pada 2022 mendorong kenaikan harga minyak. Pemerintah mengklaim tetap memperhatikan dinamika konflik perdagangan beberapa negara yang dapat menekan kembali harga minyak global. Dalam jangka panjang, terdapat risiko penurunan permintaan global terhadap minyak bumi, dan hal ini berdampak terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP) SDA Migas.

“Dari sisi suplai migas, penurunan produksi migas di Indonesia secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir perlu menjadi faktor yang diperhatikan dalam penetapan target PNBP SDA Migas,” jelas pemerintah

Risiko lainnya berasal dari sektor keuangan global. Perbaikan kondisi makro ekonomi global berpotensi meningkatkan US Treasury Yield dan normalisasi suku bunga The Fed. “Pada 2022 terhadap risiko capital outflow dari negara-negara emerging market economies. Stabilitas fundamental ekonomi Indonesia disertai dengan peningkatan investasi dan neraca perdagangan yang sehat diklaim sebagai kunci kebijakan pemerintah pada tahun 2022.●

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate