hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
UMKM  

UMKM Jenang Kondang Tumbuh Lewat Efisiensi dan Inovasi Produksi

Foto: Istimewa

Kebumen, PeluangNews.com — Di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pelaku usaha dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu membaca peluang. Hal ini tercermin dari perjalanan UMKM Jenang Kondang di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang berhasil mengembangkan usaha berbasis tradisi menjadi lebih adaptif dan produktif.

Kebumen selama ini dikenal sebagai daerah dengan potensi wisata dan kekayaan kuliner yang kuat. Salah satu produk unggulannya adalah jenang, makanan tradisional yang masih memiliki permintaan stabil di pasar lokal, terutama untuk kebutuhan hajatan dan konsumsi harian.

UMKM Jenang Kondang yang berlokasi di Jalan Karang Bolong RT 2 RW 1, Desa Rangkah, Kecamatan Buayan, telah berdiri sejak tahun 2003. Usaha ini dikelola oleh Bapak Kundang bersama keluarganya dengan dukungan satu tenaga kerja, menjadikannya sebagai contoh usaha berbasis keluarga yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Nama “Kondang” yang digunakan sebagai identitas usaha memiliki nilai branding tersendiri. Berasal dari nama pemilik, Kundang, penyebutan yang lebih familiar di masyarakat ini justru menjadi kekuatan dalam membangun kedekatan dengan konsumen lokal.

Dalam perjalanannya, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan kapasitas produksi akibat minimnya tenaga kerja. Namun, kondisi tersebut justru membuka peluang efisiensi melalui inovasi alat produksi. Pelaku usaha memodifikasi mesin yang terinspirasi dari mixer roti dengan tambahan kompor di bagian bawah, sehingga proses pengadukan menjadi lebih cepat dan konsisten.

Langkah ini mencerminkan bagaimana UMKM dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada teknologi mahal. Efisiensi produksi menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan usaha, terutama di tengah persaingan dan meningkatnya permintaan pasar.

Dari sisi produk, Jenang Kondang sempat melakukan diversifikasi dengan menghadirkan varian rasa seperti wijen dan kacang. Namun, analisis permintaan menunjukkan bahwa pasar lebih dominan memilih rasa original. Fokus pada produk unggulan ini menjadi strategi yang tepat untuk menjaga kualitas sekaligus memperkuat identitas merek.

Selain aspek bisnis, keberadaan UMKM ini juga menciptakan nilai tambah bagi lingkungan sekitar. Masyarakat terbantu dalam memenuhi kebutuhan hajatan tanpa harus memproduksi sendiri, sementara limbah produksi dimanfaatkan sebagai pakan ternak, yang secara tidak langsung mendukung praktik usaha berkelanjutan.

Proses produksi yang dijalankan tetap mengedepankan kualitas bahan baku. Beras ketan yang telah dicuci digiling hingga halus, kemudian dicampur dengan santan kelapa dan minyak sebelum dimasak menggunakan mesin pengaduk selama kurang lebih delapan jam. Penambahan gula merah dilakukan di pertengahan proses untuk menghasilkan cita rasa khas. Setelah matang, produk ditimbang, dicetak, dan dikemas sesuai permintaan pasar.

Melihat tren penguatan UMKM nasional, peluang pengembangan usaha seperti Jenang Kondang masih terbuka luas, terutama melalui dukungan program pemerintah seperti digitalisasi pemasaran, pelatihan kewirausahaan, hingga akses pembiayaan. Dengan strategi yang tepat, UMKM tradisional berpotensi memperluas pasar, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga regional.

Kisah Jenang Kondang menunjukkan bahwa kekuatan UMKM tidak hanya terletak pada produk, tetapi juga pada kemampuan membaca peluang, melakukan efisiensi, dan menjaga konsistensi kualitas. Di tengah dinamika ekonomi, model usaha seperti ini menjadi contoh konkret bagaimana UMKM dapat terus tumbuh dan berdaya saing.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate