NGAWI—Kenyang itu tidak harus dengan nasi. Demikian cetus Dewi Lestiowati, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngrambe, Kabupatan Ngawi.
Sekitar 2017, Dewi terinspirasi dari murahnya harga jagung dan singkong, serta olahannya murah dan tidak banyak varian. Selain itu produk ini malah dijadikan makanan ternak.
Padahal bila diolah dengan baik, jagung dan singkong bisa menjadi panganan sehat dan bisa benrilai ekonomis.
Selain itu dia juga mendapat keluahan dari teman-temannya yang terkena dibates dan ingin mengurangi makan nasi.
Dua hal ini mendorong perempuan kelahiran 1972 ini untuk membuat tepung dan beras dari singkong dan keju. Akhirnya Dewi mendirikan UMKM dengan brand Djeng Dewi dengan modal awal Rp600 ribu.
Dewi kemudian mengubah singkong dan jagung menjadi tepung dan beras dan dijual dengan kemasan 250 gram dengan harga Rp10 ribu. Produk ini dipasarkan di beberapa toko di Ngawi dan secara daring.
“Saya juga memasarkan melalui jaringan koperasi. Kebetulan saya juga bekerja di KUD. Saya juga memasarkan di sejumlah pameran di Jakarta dan Surabaya,hingga komunitas vegetarian,” ujar Dewi kepada Peluang, Rabu (6/10/21).
Setiap dua minggu Dewi dan timnya mengolah 600 kilogram singkong dan 15 hingga 20 kilogram jagung. Meskipun omzet masih kecil, karena terkendala masih kurangnya kesadaran masyarakat akan makanan sehat.
Dewi berharap ke depan pemerintah dan semua aspek masyarakat kian paham pentingnya memanfaatkan pangan lokal, sehingga bisa dikembangkan sebagai pengganti nasi.
Selain itu dia sendiri berencana untuk mendirikan galeri di mana tepung dna beras singkong dan jagung diolah menjadi kukis dan brownis, serta makanan olahan lain. Hal itu juga sudah dia tunjukan sewaktu melakukan pameran di berbagai tempat (Irvan).





