hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Tumbuh Solid di Tengah Volatilitas

Sampai penghujung Februari 2026, sebagian besar bank sudah resmi merilis laporan kinerja tahun buku 2025. Di tengah tekanan global dan volatilitas ekonomi, industri perbankan sebagian besar mampu tumbuh cukup solid, dalam besaran yang bervariasi.

 

Bank                                    Laba                       Kredit                   DPK                        Total Aset 

BRI                                          57,13                          1.521,49                  1.466,84                    2.135,37

Bank Mandiri                        56,3                           1.895                        2.105,8                      2.829,9

BNI                                          20,04                        899,53                     1.043                          1.362

BCA                                          57,5                           993                           1.249                         1.479,3

Bank Permata                        3,6                             163,3                        192,8                         268,3

CIMB Niaga                            8,8*                          238,3                       270,5                         372,7

OCBC NISP                             5,1                             173,4                       243,5                          308,1

Maybank Indonesia              2,22*                         123,64                    116,19                        193,72

*PBT

2025 sesungguhnya bukan tahun yang cukup bersahabat bagi sektor perbankan. Begitu banyak turbulensi dan tekanan ekonomi, sektor riil yang belum solid, daya beli Masyarakat yang masih lemah, menjadi tantangan berat yang harus ditundukkan sektor perbankan.

Nyatanya, jika melihat laporan realisasi kinerja yang dipublikasikan masing-masing bank, pertumbuhan kinerja masih mampu dipertahankan. Sejumlah bank besar, baik BUMN maupun swasta, tetap mencatatkan pertumbuhan kredit dan penguatan dana murah, meski sebagian menghadapi tekanan margin dan kualitas aset.

Di kelompok bank BUMN, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp57,13 triliun pada 2025, terkoreksi 5,26% dibandingkan Rp60,30 triliun pada 2024. Meski laba menurun, kinerja top line dan intermediasi bank itu tetap tumbuh solid.

Pendapatan bunga bank grup Danantara ini meningkat 4,27% menjadi Rp207,78 triliun, sementara beban bunga naik 1,2% menjadi Rp57,28 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih dan pendapatan jasa asuransi tercatat Rp151,8 triliun, naik 5,54% yoy.

Dari sisi penyaluran kredit, BRI mencatat pertumbuhan 12,31% menjadi Rp1.521,49 triliun, menjadikannya salah satu bank dengan ekspansi kredit paling agresif di kelompok KBMI 4. DPK tumbuh 7,42% menjadi Rp1.466,84 triliun. “Pencapaian ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional,” ujar Direktur Utama BRI Hery Gunardi.

Sementara itu, Bank Mandiri melaporkan raihan laba bersih sekitar Rp56,3 triliun sepanjang 2025. Kredit bank pelat merah itu tumbuh 13,4% menjadi Rp1.895 triliun, di atas rata-rata industri. Pendapatan bunga bersih mencapai Rp106 triliun, menopang stabilitas laba.

Bank Mandiri juga membukukan pertumbuhan DPK 23,9% menjadi Rp2.105,8 triliun, dengan CASA tumbuh 12,6% menjadi Rp1.431,4 triliun. Dari sisi risiko, kualitas aset terjaga dengan NPL gross sekitar 0,96%, di bawah rata-rata industri.

Total aset Bank Mandiri naik 16,6% menjadi Rp2.829,9 triliun, memperkokoh posisinya sebagai bank dengan neraca terbesar di Tanah Air.

Pada periode yang sama, Bank BNI membukukan laba bersih Rp20,04 triliun pada 2025, turun 6,63% secara tahunan. Meski demikian, ekspansi kredit tetap agresif dengan pertumbuhan 15,9% yoy, terutama ke sektor produktif.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh dana murah yang tumbuh 28,9%, dengan giro melonjak 43,8% dan tabungan naik 11,2%. Dari sisi kualitas aset, NPL bruto tercatat 1,9%, membaik dibanding tahun sebelumnya. Rasio CAR berada di level 20,7%, memberikan ruang ekspansi yang memadai.

Total aset BNI melonjak 20,53% menjadi Rp1.362 triliun—tertinggi secara persentase di antara bank-bank pelat merah.

Di kelompok bank swasta nasional, PT Bank Central Asia Tbk tampil sebagai bank dengan laba terbesar. BCA membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi kredit sebesar 7,7% menjadi Rp993 triliun. Kredit disalurkan secara merata ke sektor manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga rumah tangga. Di segmen konsumer, pembiayaan mencapai Rp224,1 triliun, dengan KPR Rp142,3 triliun dan KKB Rp56,6 triliun. Outstanding kartu kredit dan pinjaman konsumer lain tumbuh 9,8% menjadi Rp25,2 triliun.

Pada periode yang sama, DPK BCA tumbuh 10,2% menjadi Rp1.249 triliun. “Sepanjang tahun lalu kami menyelenggarakan berbagai event yang ternyata berhasil memberikan dampak positif terhadap kinerja BCA,” ujar Presiden DIrektur BCA Hendra Lembong.

Selain BCA, sejumlah bank swasta nasional juga mencatatkan kinerja positif.

Bank Permata menutup 2025 dengan laba bersih Rp3,6 triliun. Total pendapatan tumbuh 3,8% menjadi Rp12,6 triliun, ditopang lonjakan pendapatan non-bunga 34,1% menjadi Rp2,6 triliun. Kredit bank itu meningkat 5,5% yoy menjadi Rp163,3 triliun, terutama didorong segmen korporasi yang tumbuh 11,2% menjadi Rp99,6 triliun.

Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah naik 3,9% menjadi Rp192,8 triliun. CASA tumbuh 20,1% sehingga rasio CASA meningkat ke level 63,9%. Total aset tercatat Rp268,3 triliun, naik 3,6% yoy.

Menurut Presiden Direktur Meliza M. Rusli, kinerja 2025 bank itu mencerminkan fundamental yang resilien. “Pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah dalam memenuhi kebutuhan keuangan mereka,” ujarnya.

PT Bank CIMB Niaga Tbk  membukukan laba sebelum pajak konsolidasian sebesar Rp8,8 triliun pada 2025.  Penyaluran kredit tumbuh 4,5% yoy menjadi Rp238,3 triliun, terutama didorong segmen Korporat (+6,7%), disusul Konsumer (+3,4%) dan UKM (+2,0%). DPK naik 3,8% yoy menjadi Rp270,5 triliun, dengan CASA tumbuh 10,1% menjadi Rp189,5 triliun sehingga rasio CASA mencapai 70%.

Di segmen Syariah, pembiayaan bank itu tercatat Rp55,7 triliun dengan DPK Rp50,3 triliun, menjaga posisi CIMB Niaga Syariah sebagai salah satu UUS terbesar di Tanah Air. “Kami berhasil memperkuat posisi likuiditas dan permodalan, yang semakin memperkuat landasan untuk terus bertumbuh sekaligus memberikan nilai jangka panjang,” ujar Presiden Direktur & CEO Bank CIMB Niaga Lani Darmawan.

PT Bank OCBC NISP Tbk mencatat kinerja solid sepanjang 2025 dengan laba bersih setelah pajak sebesar Rp5,1 triliun, tumbuh 4% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan ini ditopang kenaikan pendapatan operasional sebesar 10% menjadi Rp13,1 triliun. Penyaluran kredit meningkat 2% YoY menjadi Rp173,4 triliun.

Pada periode yang sama, PT Bank Maybank Indonesia Tbk mencatat kinerja laba yang menguat signifikan. Laba sebelum pajak (PBT) naik 38,9% menjadi Rp2,22 triliun.

Kinerja ini didukung oleh penurunan beban pencadangan dan pengelolaan biaya yang lebih efisien, serta pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non-bunga. Total kredit yang disalurkan sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp123,64 triliun, sedangkan jumlah simpanan nasabah tercatat sebesar Rp116,19 triliun. Total aset bank tercatat sekitar Rp193,72 triliun. “2025 menjadi momentum penguatan profitabilitas dan fundamental Bank di tengah ketidakpastian pasar,” ujar Presiden Direktur Steffano Ridwan.

Secara keseluruhan, pada 2025, meski sebagian bank menghadapi tekanan laba akibat kenaikan biaya dana dan kualitas aset, fundamental industri tetap resilien dan menjadi penopang stabilitas sistem keuangan nasional.

Apakah pertumbuhan kinerja ini akan berlanjut pada 2026? Perbankan tampaknya harus menyusun berbagai skenario dan strategi yang tepat karena ekonomi di 2026 hampir dipastikan akan mengalami turbulensi imbas situasi keamanan dunia yang makin bergejolak. (drp)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate