JAKARTA—Badan Pusat Statistik mengumumkan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 16,70 persen.
Sementara pada sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 10,82 persen.
Dengan demikian Indonesia seperti halnya banyak negara lain resmi mengalami resesi sebagai dampak pandemi Covid-19.
Sebagai catatan pada Ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan pertama mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 4,19 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 29,22 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa serta Impor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 12,81 persen dan 14,16 persen.
“Walaupun masih terkendala Covid-19, perekonomian lebih baik dibandingkan kuartal II 2020. Beberapa indikator di beberapa negara mengalami perbaikan,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, Kamis (5/11/20).
Kepala BPS menyebut realisasi belanja negara (APBN) triwulan III mencapai Rp771,137 triliun. Sedangkan realisasi penanaman modal mencapai Rp209 triliun pada kuartal ketiga.
“Realisasi APBN ini bisa membantu konsumsi rumah tangga,” ucap Suhariyanto.








