dokter keuangan
dokter keuangan
octa vaganza
Berita  

Triawan Munaf : Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia Ajang Bangun Jaringan

Triawan Munaf-Foto; Polunusa.

JAKARTA—-Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengatakan, perlu adanya landasan bersama dan pemahaman bersama memperjuangkan ekonomi kreatif baik di dalam negeri maupun di dunia untuk menjadi sektor andalan meningkatkan kesejaterahan masyarakat.

“Selama tiga tahun terakhir ini tiba-tiba berbagai elemen dan sub sektor ekonomi kreatif mendunia di Indonesia,” ungkap Triawan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (25/9/2018) berkaitan dengan  penyelenggaraan Konferensi Dunia Ekonomi Kreatif pada 6-8 November mendatang di Nusa Dua, Bali.

Menurut  Triawan  WWCE akan membuka jejaring di antara seluruh pemangku kepentingan pelaku ekonomi kreatif global.

Presiden RI Joko Widodo berencana membuka WWCE di Bali. Sejumlah tokoh internasional dan nasional telah menyatakan konfirmasinya untuk tampil seperti Presiden China Film Corporation Le Kexi, Wakil Presiden LEGO Peter Trilingsgraad (Denmark), Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya.

“WWCE akan menghasilkan berbagi masukan untuk mendukung perkembangan ekonomi kreatif sebagai lokomotif perekonomian global,” kata Triawan.

Mengusung tema “Inclusively Creative”, Triawan mengatakan WCCE akan diikuti 1.000 peserta dari dalam maupun luar negeri. Pada forum tersebut akan membahas 4 isu utama yaitu kohesi sosial, regulasi, pemasaran, ekosistem, dan pembiayaan industri kreatif.

“Para pembicara dari belahan dunia akan menyampaikan pandangan mereka mengenai kondisi ekonomi kreatif saat ini,” jelas dia.

Para menteri dari berbagai negara akan mendiskusikan kebijakan di setiap negara dan model-model kerja sama internasional.

“WWCE diharapkan dapat memperkuat posisi ekonomi kreatif sebagai katalisator bagi komunikasi dan pemahaman yang dapat menjembatani hubungan ekonomi dan budaya,” tutur dia.

Sementara itu Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia AM Fachir menyebutkan, penyelenggaraan WWCE ini sebagai bentuk kontribusi Indonesia, seklaigus meningkatkan kapasitas industri kreatif Indonesia.

“Negara di dunia perlu tahu posisi mereka dalam industri kreatif, apakah sebagai pemasok atau sebagai pasar,” kata dia(van).