BANTUL—-Desa Krebet Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta, kurang lebih 12 km barat daya Kota Yogyakarta berada di daerah bertanah kapur yang tandus. Awalnya masyarakat Krebet mengandalkan pertanian sebagai sumber mata pencaharian.
Sayangnya karena berlangsung musiman dan berada di tanah tandus pula, warga setempat mengembangkan keahlian lain untuk membuat barang-barang kerajinan dari kayu yang dibatik. Desa Krebet menjadi sentra kerajinan batik kayu kondang di Yogyakarta.
Warga Krebet memanfaatkan kayu sebagai media untuk membatik hingga mampu menghasilkan karya-karya cantik bernilai tinggi yang banyak diminati oleh wisatawan domestik maupun manca negara. Desa wisata Krebet juga mempunyai produk kerajinan bunga kering yang juga banyak diminati oleh wisatawan.
Melihat potensi yang begitu tinggi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno akan menyiapkan pendampingan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di desa tersebut sebagai upaya meningkatkan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif sehingga dapat membuka lapangan kerja dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Melihat besarnya potensi tersebut, saya secara konkret mengarahkan jajaran Kemenparekraf yang membawahi ekonomi kreatif untuk mengeksekusi beberapa program pendampingan dan beberapa program yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat. Karena pada intinya kita ingin memulihkan perekonomian khususnya di Kabupaten Bantul,” kata Sandiaga di sela kunjungannya, Senin (26/4/21).
Program pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif, di antaranya pemasaran digital, dimana para pelaku ekonomi kreatif diajak untuk belajar memahami perubahan perilaku konsumen selama pandemi, cara membangun branding di dunia digital, mengembangkan pemasaran digital, mengembangkan rencana bisnis digital, serta mendatangkan penjualan.
“Pendampingan ini sebagai bentuk dari keberpihakan pemerintah kepada desa wisata dan masyarakat,” kata Sandiaga Uno.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengemukakan, ekonomi kreatif memang menjadi salah satu andalan yang ada di wilayahnya. Bahkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada tahun 2017 telah menetapkan Bantul sebagai kabupaten kreatif kriya terkuat di DIY.
Bupati menyebut 70 persen hasil ekspor DIY berasal dari Kabupaten Bantul. Sehingga tidak ada keraguan bagi pihaknya untuk menetapkan industri kreatif sebagai prioritas di dalam Rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Sementara untuk sektor pariwisata, secara umum ia mengatakan, aksesibilitas khususnya ke desa wisata menjadi salah satu kendala yang tengah dihadapi. Selain itu juga utilitas dasar untuk menunjang kunjungan wisatawan yang berwisata ke Bantul.
“Kendala kami memang terkait jalan atau akses menuju desa-desa wisata serta utilitas dasar seperti telekomunikasi. Dengan dilakukan pemenuhan sarana dan prasarana infrastruktur ke depan, mudah-mudahan 43 desa wisata yang ada di Bantul akan pulih dan mampu menerima kedatangan wisatawan lebih banyak jauh sebelum pandemi,” tutup dia.








