
PeluangNews, Buol – Drama kemanusiaan yang menguras emosi terjadi di perairan Selat Makassar. Sebanyak 15 warga negara Filipina ditemukan dalam kondisi kritis setelah terombang-ambing di laut lepas selama 13 hari tanpa makanan dan minuman memadai. Mereka diselamatkan oleh seorang nelayan asal Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Moh Rusman, pada Kamis (22/1/2026).
Kisah pilu ini pertama kali beredar melalui unggahan sejumlah warga Buol di media sosial, salah satunya akun Facebook Rudi Laba. Peristiwa bermula pada 9 Januari 2026, ketika satu keluarga besar bernama Bandir—berjumlah 17 orang termasuk anak-anak dan balita—berlayar dari Pelabuhan Sempurna, Sabah, Malaysia, menuju Tawi-Tawi, Filipina, menggunakan sebuah speed boat bermesin tempel 40 PK untuk menghadiri hajatan keluarga.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh sekitar delapan jam berubah menjadi mimpi buruk setelah speed boat mereka menabrak batang kayu besar yang mengapung di tengah laut. Dua mesin tempel rusak parah, membuat perahu oleng dan kemasukan air. Dalam kondisi darurat, mesin-mesin tersebut terpaksa dibuang ke laut demi mencegah kapal tenggelam.
Situasi semakin genting pada hari kedua. Di tengah gelombang besar di sekitar perairan Tawi-Tawi, putra Bandir (27) dan suami dari Lisa—saudara Bandir—nekat melompat ke laut dengan hanya berbekal jerigen sebagai pelampung untuk mencari daratan. Keputusan itu menyisakan 15 orang di atas perahu, mayoritas perempuan dan anak-anak.
“Bermodalkan penutup ember yang dijadikan dayung, kami hanya mengikuti arah angin,” tutur Bandir mengenang masa-masa kritis tersebut.
Selama 13 hari terombang-ambing, para korban bertahan hidup dengan mengandalkan air hujan yang tertampung dua kali serta sisa biskuit bekal perjalanan. Memasuki hari kedelapan, seluruh persediaan makanan habis. Anak-anak dan balita mulai melemas, kulit mereka terkelupas akibat paparan matahari dan air laut. Bahkan, satu keping biskuit terakhir harus dibagi dua agar semua tetap memiliki tenaga.
“Kami pasrah dan hanya bisa berdoa. Selama lima hari terakhir kami tidak makan dan minum. Saat melihat kapal dari kejauhan, rasa lapar saya hilang, digantikan semangat untuk berteriak minta tolong,” ujar Bandir.
Pertolongan datang dari Moh Rusman, nelayan Buol yang akrab disapa Cici. Saat itu, Rusman sedang mencari lokasi ikan sekitar 72 mil dari daratan. Ia curiga melihat perahu asing yang tidak lazim digunakan nelayan Indonesia.
“Saya pernah lama di Malaysia, jadi saya kenal bentuk perahu itu. Saat saya dekati, ternyata isinya banyak orang dan kondisinya sangat lemas. Pak Bandir berteriak minta tolong agar dibawa ke mana pun asalkan bisa selamat,” kata Rusman.
Tanpa ragu, Rusman mengevakuasi seluruh korban ke kapalnya. Ia memberikan makanan dan minuman seadanya, lalu menarik speed boat yang rusak menuju Dermaga Poyapi, Kelurahan Leok, Kabupaten Buol. Perjalanan darurat tersebut memakan waktu sekitar 10 jam dan tiba di daratan sekitar pukul 18.30 WITA.
Setibanya di dermaga, empati warga Buol langsung mengalir. Warga setempat menyediakan pakaian, makanan, serta kebutuhan dasar lainnya sebelum petugas datang. Dapur umum dadakan pun didirikan untuk membantu para korban yang kelaparan.
Polres Buol bersama TNI AL, BPBD, dan pemerintah daerah segera melakukan penanganan. Kasi Humas Polres Buol, Iptu Ridwan, memastikan seluruh warga negara Filipina tersebut telah dievakuasi ke RSUD Mokoyuri Kabupaten Buol untuk mendapatkan perawatan medis.
“Saat ini kami melakukan pendataan identitas serta pengamanan di lokasi penampungan sementara. Koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan untuk penanganan selanjutnya,” ujar Iptu Ridwan.
Kini, 15 warga negara Filipina yang telah puluhan tahun bermukim di Sempurna, Sabah, Malaysia, akhirnya dapat bernapas lega setelah selamat dari 13 hari pertaruhan nyawa di laut lepas Selat Makassar yang ganas dan tak kenal ampun. (Elkana)








