
PeluangNews, Jakarta – Pengembangan energi panas bumi nasional kini memasuki babak baru yang lebih adaptif dan efisien. Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama PT Geo Dipa Energi (Persero) menghadirkan inovasi teknologi wellhead modular sebagai solusi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil yang lebih fleksibel dan cepat diimplementasikan.
Kolaborasi ini menjadi jawaban atas keterbatasan pendekatan konvensional yang selama ini mendominasi pengembangan PLTP, yang umumnya membutuhkan investasi besar, infrastruktur kompleks, serta waktu pembangunan yang panjang.
Melalui Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE), BRIN bersama Geo Dipa Energi mengembangkan teknologi wellhead modular yang mampu mengonversi energi panas bumi menjadi listrik secara lebih efisien dan terdesentralisasi.
Kepala PRTKE BRIN, Tata Sutardi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah membangun percontohan PLTP skala kecil dengan melibatkan industri dalam negeri, khususnya dalam pembuatan turbin dan generator.
“PLTP skala kecil ini dapat dimanfaatkan pada sumur berkapasitas kecil, sehingga mempercepat periode pengembalian investasi (payback period) dan mempercepat ketersediaan listrik,” ujarnya dalam penandatanganan Perjanjian Kerja Sama di Gedung 720, Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pengembangan PLTP skala kecil perlu diarahkan menuju tahap industrialisasi agar dapat mendorong hilirisasi produk sekaligus memperkuat industri komponen dalam negeri. Potensi panas bumi Indonesia yang besar dinilai dapat dimaksimalkan melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas industri nasional.
Dari sisi industri, Direktur Pengembangan Niaga dan Eksplorasi PT Geo Dipa Energi (Persero), Ilen Kardani, menjelaskan bahwa teknologi wellhead modular dapat diterapkan pada sumur dengan kapasitas kecil, sekitar 2–3 megawatt (MW).
Teknologi ini memungkinkan pembangkit dipasang langsung di dekat kepala sumur, sehingga mampu mengurangi kehilangan energi selama proses transportasi uap sekaligus menekan kebutuhan infrastruktur.
Ia menambahkan, pendekatan modular memberikan fleksibilitas tinggi dalam pengembangan pembangkit tanpa harus menunggu kapasitas besar. Dengan kapasitas 2–3 MW, listrik yang dihasilkan sudah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat di sekitar wilayah eksplorasi.
Selain itu, teknologi ini dinilai mampu mempercepat titik impas (break even point), bahkan dalam waktu sekitar dua tahun sudah dapat menghasilkan pendapatan dari penjualan listrik.
Pengembangan teknologi wellhead modular ini turut diperkuat oleh rekam jejak riset BRIN dalam teknologi panas bumi berbasis organic rankine cycle (ORC). Implementasi teknologi tersebut telah dilakukan pada berbagai skala, mulai dari 2 kW di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, 100 kW di Soreang, Bandung, hingga 500 kW di Lahendong, Sulawesi Utara, serta demonstrasi PLTP flash steam berkapasitas 3 MW di Kamojang, Jawa Barat.
Dengan terobosan ini, kolaborasi BRIN dan Geo Dipa Energi tidak hanya membuka peluang percepatan elektrifikasi berbasis energi bersih, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi panas bumi yang lebih inklusif, efisien, dan berkelanjutan.








