hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Tekan Impor Aspal, Pemerintah Genjot Pemanfaatan Aspal Buton

Aspal Buton/ Foto: Ist

PeluangNews, Jakarta – Gejolak geopolitik global yang terus berkembang, khususnya di Timur Tengah, membawa dampak nyata terhadap fluktuasi energi dunia. Dalam situasi ini, pemerintah Indonesia berupaya memperkuat strategi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada bahan berbasis minyak bumi, termasuk aspal impor, demi menjaga stabilitas pembangunan.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa kondisi geopolitik global saat ini menuntut Indonesia untuk memaksimalkan sumber daya dalam negeri, sekaligus mengamankan ketersediaan energi dan material strategis nasional. Arahan tersebut menjadi landasan penguatan kebijakan di berbagai sektor, termasuk infrastruktur.

Merespons hal tersebut, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menginisiasi kebijakan peningkatan penggunaan Aspal Buton (Asbuton) sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur nasional.

Silaturahmi Menteri Pekerjaan Umum dengan Media di Jakarta, Kamis (2/4)/ Foto: Ratih (PeluangNews)

“Sesuai arahan Presiden Prabowo, kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada sumber daya dari luar, terutama di tengah situasi global yang tidak pasti. Apa yang kita miliki di dalam negeri harus menjadi kekuatan utama,” ujar Dody dalam acara Silaturahmi Menteri Pekerjaan Umum dengan Media di Jakarta, Kamis (2/4).

Sebagian besar aspal impor diketahui merupakan turunan dari minyak bumi. Ketika suplai minyak terganggu dan harga global meningkat akibat konflik, biaya aspal ikut terdorong naik dan berdampak langsung pada anggaran pembangunan jalan. Kondisi ini menjadikan ketergantungan tinggi terhadap impor sebagai titik rawan yang perlu segera dikurangi.

Di sisi lain, Indonesia memiliki Aspal Buton sebagai sumber daya alam yang melimpah dengan kualitas yang diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Namun, dalam lima tahun terakhir, pemanfaatan Asbuton olahan masih terbatas, dengan rata-rata hanya sekitar 4 persen dari total penggunaan aspal nasional.

“Saat ini, sekitar 78 persen kebutuhan aspal nasional masih dipenuhi dari impor, dari total kebutuhan 1,056 juta ton pada 2024 yang diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton per tahun. Untuk itu, kami sedang mendorong regulasi kebijakan wajib penggunaan Asbuton olahan dengan target substitusi paling sedikit 30 persen (A30) dalam campuran beraspal. Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan ketergantungan terhadap aspal impor hingga sekitar 50 persen,” jelas Dody.

Melalui substitusi Asbuton (A30), kebijakan ini juga menjadi langkah mitigasi terhadap risiko lonjakan harga akibat gejolak energi global. Pemanfaatan Asbuton diposisikan sebagai strategi kunci untuk mengurangi tekanan impor sekaligus memperkuat kemandirian nasional.

“Selain memperkuat ketahanan pasokan, kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp4,08 triliun per tahun, meningkatkan penerimaan pajak sebesar Rp1,6 triliun per tahun, serta mendorong penguatan industri dalam negeri melalui pemenuhan SNI dan TKDN minimal 40 persen,” tambah Dody.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate