WONOSARI-–Masyarakat Jawa Tengah kerap menyajikan sego berkat atau nasi berkat ketika menggelar hajatan. Warga Pacitan atau Wonogiri membungkusnya dengan daun jati dan ada juga yang menggunakan besek. Biasanya nasi berkat ini dibawa sebagai suvenir pulang hajatan.
Warga Desa Kepek, Suwarni biasanya berjualan keripik tempe, peyek ketika aktif di sebuah paguyuban. Dia kerap mengikuti pameran-pameran. Suatu ketika, dia berinisiatif membawa nasi berkat di samping jualan keripik, ketika hadir di acara HUT Iwapi di Yogyakarta pada 2019.
Nasi berkat itu budaya eyang. Beda dengan nasi ramas terletak keberadaan serundengan dan ayam suwir serta rasanya pedas. Nasinya juga bisa diganti nasi uduk.
“Ternyata peminat nasi berkat saya banyak. Dari situ saya kemudian menjual nasi berkat. Sayangnya sempat terdampak oleh pandemi Covid-19,” ujar Suwarni kepada Peluang, Rabu (11/11/20).
Setelah memasuki New Normal, Suwarni mendirikan warung tenda di depan Balai Desa dan hasilnya mendapatkan berkah. Setiap hari dia memasak 24 kilogram beras dan jadinya 300 bungkus nasi berkat dengan harga kisaran Rp5 ribu hingga Rp13 ribu (dengan lauk lengkap dengan daging).
“Namun pada tiap Jumat saya bisa menjual 500 nasi bungkus untuk kegiatan Jumat Berkah bahkan lebih. Omzet saya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per hari. Saya juga penjualan daring,” kata Suwani.
Ke depan, dia berharap tidak muluk-muluk, ingin usahanya tetap langgeng. Saat ini dia dibantu dua orang juru masak. Suwarni mengaku tetap menjual keripik, usaha pertamanya (Van).








