JAKARTA—CSIS Indonesia mengungkapkan hasil surveinya terkait kartu kerja. Hasil survei menunjukkan insentif dari program tersebut banyak digunakan oleh peserta sebagai modal usaha, di samping untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Peneliti Senior CSIS indonesia Fajar B. Hirawan menyampaikan sebanyak 86,7 persen responden menggunakan insentif untuk membeli sembako atau kebutuhan sehari-hari.
Sementara sebanyak 63,4 persen responden menggunakan insentif untuk membayar listrik dan air. 51,9 persen responden juga menggunakan insentif untuk membeli pulsa atau paket internet.
“Namun ada 42,4 persen responden menyatakan bahwa mereka menggunakan insentif sebagai tambahan modal usaha,” ujar Fajar dalam webinar, Jumat (13/8/21).
Menurut Fajar dari 2.000 responden, sebanyak 42,4 persen responden menjawab penggunaan insentif untuk modal usaha adalah hal menarik. Karena sudah setengahnya menggunakan insentif untuk membeli barang untuk dijual kembali.
“29,2 persen lainnya untuk membeli bahan produksi, misalnya membeli tepung untuk membuat roti, dan sebagainya.
CSIS juga menemukan manfaat Program Kartu Prakerja, di mana terjadi peningkatan status kebekerjaan dan kewirausahaan setelah peserta mengikuti program ini. Di samping itu, terjadi juga peningkatan jumlah pelaku usaha digital melalui e-commerce setelah peserta mengikuti Program Kartu Prakerja.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari menyampaikan bahwa total peserta Program Kartu Prakerja pada semester I/2021 mencapai 2,77 juta peserta dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp10 triliun.
“Program Kartu Prakerja efektif meningkatkan keterampilan dan kompetensi para pekerja. Pasalnya, selama ini sangat sedikit perusahaan yang mau berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas SDM-nya,” kata Puspa.





