hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Surita Rahmadewi, Anak Petani Yang Jadi Pengusaha Bordir

ACEH BESAR—Surita Rahmadewi termasuk salah satu dari 164 desiner  yang disebut dalam ajang  Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang digelar Oktober 2020. Perempuan asal Aceh ini menjadi pelaku UKM fesyen muslim yang terus berkembang dan tidak ada matinya, karena memang pasarnya masih sengat terbuka.

Kelahiran Montasik, 29 Mei 1979 dari  bukan dari keluarga mampu, orang tua saya hanya seorang petani yang menghidupi 8 orang anak.  Surita masih ingat   beban yang sangat berat dipikul orangtuanya.

“Saya terinspirasi harus bisa mempunyai penghasilan agar bisa membantu ekonomi keluarga dan bisa membahagiakan orang di sekitar saya,” ucap Surita ketika dihubungi Peluang, Jumat (1/10/21).

Warga  Gani Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar ini sudah menekuni dunia bordir sejak 1990 ketika usianya masih kanak-kanak.   Dia hanyapekerja yang mendapatkan upah yang saat itu sangat minim.

“Upah saya hanya Rp3.000 per bordir. Saya hanya  bisa siapkan 3 baju per hari  dengan pengdapatan Rp9.000 per hari. Kalau saya telat pulang sekolah, saya  cuma bisa saya siapkan  satu baju,” tambahnya.

Jika anak-anak seusianya bermain, maka bagi Surita membordir adalah permainan sehari-hari. Namun hal itu dilakukannya bukan hanya karena masalah ekonomi keluarga, tetapi juga wujud kecintaannya terhadap bordir dan ingin menjadi orang yang sukses di bidang fesyen.  

Akhirnya pada 2008  Surita mampu mandiri walaupun masih mengalami jatuh bangun. Kurangnya modal dan  kekurangan SDM.

Ketika ditanya soal perbedaan bordir hasil karyanya dengan bordir lainnya, Surita menyampaika lebih mengutamakan kerapian.   Walaupun kapasitas produksinya kurang mencapai target, motif yang dipakai tidak monoton.

“Saya selalu berusaha menciptakan motif” baru yang tentunya tidak mengirangi nilai keacehannya. Perpaduan warna benang juga tidak monoton, ketepatan waktu dan saya mengikuti pasar dan zaman. yang paling saya perhatikan bordir saya itu luar dalam sama,” ungkapnya, seraya mengatakan tidka pernah belajar kursus mode, hanay belajar otodidak.

Surita Bodir mampu memproduksi per bulan 50 helai sampai 200 helai semua item dengan harga berkisar Rp50 ribu hingga Rp5 juta. Dengan pemasaran secara fisik maupun daring sebelum pandemi Surita meraup omzet tertinggi per bulan Rp30 juta.

Dia mengaku terdampak selama pandemi Covid-19, karena banyak event yang dibatalkan dan tamu dari luar juga tidak ada sehinga daya beli kurang.  Untuk mensisatinya, Surita mengoptimalkan penjualan secara daring, seperi promosi di media sosial dan permintaan konsumen meningkat.

Surita yakin bahwa sekalipun kompetitor bordir banyak, baik di Aceh maupun di luar Aceh, dia tetap mendapatkan ceruk pasar karena produknya unik dan berkualitas sekalipun menggunakan mesin bordir manual.

“Alhamdulillah produk Surita Bordir sudah sampai ke luar negri.  Pada 2018 kolaborasi dengan desainer muda Indonesia Jenahara Nasution ikut fashion show di Moscow dan pada Mei 2021 ikut pameran di Singapura,” tutupnya (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate