JAKARTA—Masyarakat Betawi kaya dengan beragam kuliner, teurtama kue tradisional. Namun nama-nama kue itu terasa asing pada masa sekarang, tenggelam oleh semaraknya kue-kue kekinian. Dodol Betawi masih terdengar akrab, berkat sejumlah tayangan televisi, namun bagaimana dengan tape uli dan lopis?
Suherman, seorang putra Betawi, warga Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur berinsiatif melanjutkan kue-kue yang dibuat ibunya dan mempopulerkannya di media sosial. Kalau dulu ibunya melayani pesanan dengan konsumen datang ke rumah, kini dengan teknologi bisa dilayani secara daring.
“Sebagai anak Betawi, saya wajib untuk melestarikan budaya, di antaranya kuliner Betawi,” ujar dia ketika dihubungi Peluang, Senin (15/3/21) melalui Whatsapp.
Pria kelahiran 1978 memutuskan terjun ke dunia wirausaha pada 2017 menawarkan paket-paket kue tradisional betawi, baik untuk konsumsi hajatan maupun ingin dinikmati konsumen jadi camilan.
Ternyata sambutan pasar meriah. Tape Uli yang dibandroll Rp35 ribu, dodol yang dibandroll Rp35 ribu per gulung dan lopis Rp25 ribu per paket diminati. Suherman juga menawarkan paket besekan. Pengemas dilakukan dengan packing apik layaknya, pengiriman kue masa kini lewat jasa Gofood atau Grabfood.
“Sebelum pandemi saya memperoleh omzet kotor yang cukup tinggi, sekira Rp9 juta per bulan. Sayangnya pandemi berdampak bagi usaha saya, omzet saya hanya tinggal 60 persen,” ujar pehawai PJLP Provinsi DKI Jakarta ini.
Dia beruntung kerja kerasnya melalui media sosial membuat usahanya tetap bertahan. Dia juga mendapatkan bantuan dari Jakpreneur, PPAPP, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur terutama dalam promosi dan diikutsertakan dalam beberapa kegiatan, hingga perizinan, termasuk lebel halal.
“Ke depan kalau pandemi usai, kita akan berupaya membuka gerai. Saat ini kita bertahan dengan sistem pre order,” ucap Suherman (Van).








