
PeluangNews, Bogor – Strategi diversifikasi produk menjadi kunci keberhasilan dalam bertahan dan tumbuh pascapandemi. Melalui brand boneka Trilili, pelaku usaha ini berhasil menembus pasar destinasi wisata nasional seperti Gembira Loka Zoo dan Aviary Park Indonesia.

Pemilik CV Triangsa Mandiri, Tri, mengatakan pandemi Covid-19 sempat menekan penjualan produk boneka secara signifikan. Permintaan turun drastis karena perubahan pola konsumsi masyarakat.
“Waktu pandemi, penjualan boneka turun tajam. Masyarakat fokus ke kebutuhan utama. Dari situ saya sadar harus segera pivot,” ujar Tri.
Diversifikasi ke Perlengkapan Bayi
Langkah strategis yang diambil adalah memperluas lini usaha ke segmen perlengkapan bayi, yang dinilai memiliki demand lebih stabil dibanding produk musiman seperti boneka.
Produk yang dikembangkan meliputi selimut hoodie, bantal menyusui, sleeping sack, perlak, hingga perlengkapan stroller. Pada periode puncak, kapasitas produksi lini ini mencapai 8.000 piece per bulan dengan sistem maklon dan distribusi berbasis penjualan online.
“Perlengkapan bayi itu repeat order-nya lebih jelas. Kebutuhan terus ada. Itu yang membuat arus kas lebih stabil dibanding boneka,” jelasnya.
Strategi ini terbukti mampu menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan ekonomi.
Ekspansi ke Sektor Pariwisata
Memasuki 2022, seiring pemulihan sektor wisata, Trilili kembali memperkuat lini boneka dengan pendekatan berbasis kebutuhan destinasi. Tri mengembangkan model bisnis custom merchandise satwa, yakni memproduksi boneka sesuai karakter hewan yang ada di lokasi wisata.

Model ini berhasil membuka kerja sama dengan Gembira Loka Zoo serta Aviary Park Indonesia.
“Konsepnya sederhana. Kalau ada hewan aslinya, harus ada merchandise-nya. Pengunjung ingin membawa pengalaman itu pulang dalam bentuk suvenir,” kata Tri.
Dengan sistem purchase order (PO) dan minimal order tertentu, perusahaan mampu menjaga kepastian produksi sekaligus mengurangi risiko stok menumpuk.
Tren pasar juga menjadi faktor penting. Tahun lalu, boneka ular mencatat penjualan hingga hampir 4.000 piece. Tahun ini, boneka kapibara menjadi produk dengan permintaan tertinggi.
“Produk boneka sangat mengikuti momentum. Karena itu kami harus cepat membaca tren,” ujarnya.
Efisiensi Struktur Biaya
Dalam menghadapi tekanan cashflow akibat keterlambatan pembayaran pada tahun lalu, Tri melakukan restrukturisasi biaya produksi. Salah satunya dengan mengurangi tenaga kerja tetap dan memperluas sistem subkontrak.
“Dengan sistem subkontrak, biaya lebih fleksibel karena dibayar per unit produksi. Jadi beban tetap bisa ditekan,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan memprioritaskan penggunaan bahan baku lokal untuk menjaga lead time dan stabilitas harga.
“Kualitas bahan lokal sekarang sangat kompetitif. Waktu produksi juga lebih cepat dibanding impor,” tambahnya.
Penguatan Brand dan Digitalisasi
Untuk memperluas pasar, Trilili mulai memperkuat kehadiran di platform digital seperti TikTok dan Instagram. Digitalisasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang memperluas distribusi tanpa ketergantungan pada pasar offline semata.
Di sisi regulasi, perusahaan juga tengah mengurus sertifikasi K3L Produk, terutama untuk lini perlengkapan bayi, guna meningkatkan daya saing dan kepercayaan pasar.
“Sertifikasi penting untuk ekspansi, apalagi kalau ingin masuk pasar yang lebih besar atau ekspor,” kata Tri.
Berbekal Pengalaman Industri Ekspor
Sebelum mendirikan usaha sendiri, Tri memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di industri boneka ekspor. Ia pernah menangani proses produksi dari desain hingga perhitungan kapasitas kontainer (CBM).
Pengalaman tersebut menjadi fondasi dalam membangun sistem produksi yang efisien dan berstandar ekspor.
“Saya mulai usaha sendiri dari tiga mesin di rumah. Sekarang produksi bisa ribuan piece per bulan. Kuncinya adaptif dan disiplin membaca pasar,” tutupnya.








