hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

“Spin Off” Menjawab Tantangan Yang Dihadapi Koperasi

JAKARTA-–Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro Rulli Nuryanto, menyampaikan bahwa pengembangan koperasi melalui spin off  dapat menjawab berbagai tantangan yang dihadapi koperasi di Indonesia saat ini.

Kemenkop UKM mencatat partisipasi masyarakat Indonesia untuk menjadi koperasi masih rendah, yaitu  baru mencapai 8,41% masih di bawah rata-rata dunia sebesar 16, 31%.  Selain itu konstribusi koperasi pada perekonomian nasional masih 5,1%.

“Selain itu saat ini koperasi dihadapkan tiga disrupsi sekaligus, yaitu pandemi yang mengembankan pola aktivitas dan norma baru. Kedua disrupsi teknologi di era industri 4.0 dengan kemudahan mengakses teknologi dan ketiga struktur demografi yang didominais generasi milenial, generasi Z dan generasi Alfa dengan besaran sekitar 64%,” papar Rulli dalam Webinar  bertajuk “Pengembangan Koperasi Melalui Spin Off”, Selasa (13/7/21).

Selain itu tantangan lain yang dihadapi koperasi ialah sebagian dari 127 ribu-an koperasi yang ada adalah koperasi yang aset, omzet dan jumlah anggotanya yang relatif kecil dan sulit berkembang menjadi besar dan hanya cukup bertahan hidup.

Sementara di sisi lain terdapat koperasi yang mempunyai skala ekonomi, omzet, aset, skala ekonomi dan usaha  yang relatif besar.  Ada pula koperasi yang mempunyai anak-anak usaha atau usaha turunan baik yang dimiliki sendiri maupun dalam bentuk kemitraan dengan pihak lain.

Koperasi Indonesia perlu didorong agar dapat meningkatkan daya usahanya.   Dia berharap, misalnya koperasi produsen bisa masuk ke skala industri dari hulu hingga hilir. Mulai dari suplai bahan baku, agredasi  hasil fabrikasi, pengolahan, pengemasan, branding sampai ke pemasaran.

Sementara untuk koperasi konsumen dapat membangun sistem waralaba dan koperasi simpan pinjam dapat meningkatkan layanan secara profesional dengan berbagai produk simpanan pada anggotanya.

“Kita juga berharap Koperasi Simpan Pinjam dapat membiayai sektor-sektor produktif,” tambah Rulli.  

Pada 2024, pemerintah menargetkan konstribusi koperasi pada PDB dapat meningkat menjadi 5,5% dan mengembangkan 500 koperasi modern. Untuk mencapai target tersebut sekaligus melakukan rebranding koperasi sebagai entitas bisnis.

Caranya, Kemenkop mengembangkan berbagai langkah antara lain transformasi kelembagaan koperasi yang dilakukan antara lain melalui dengan mengembangan model bisnis koperasi di sektor pangan dan sektor riil dengan kemitraan agar terhubung dengan rantai pasok.

Penguatan lembaga dan pengembangan usaha koperasi maupun usaha anggotanya, termasuk dengan pemakaran. Juga melakukan mendukung pada koperasi melalui digitalisasi.

“Pemerintah juga menyiapkan belanja kelembagaan sebesar  40% dan UKM, serta 30% infrastruktur di rest are, bandara dan sebaginya untuk produk koperasi dan UMKM. Pemekaran koperasi dapat memanfaatkan peluang yang diberikan pemerintah,” ujar dia.

Dengan demikian spin off koperasi langkah alternatif meningkatkan koperasi, termasuk meningkatkan kesejahteraan dan kebutuhan anggotanya.  Pemekaran koperasi dapat mengoptimalkan dana-dana lebih, yang ada di koperasi.

“Tentunya pemekaran juga harus dilakukan secara terencana, hati-hati dan memberikan informasi yang cukup bagi anggotanya, serta sesuai dengan regulasi yang ada,” tutup Rulli (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate