Cadangan nikel Indonesia dan Australia berada di urutan puncak dengan cadangan 21 juta metrik ton. Namun, umurnya paling singkat. Sebab, pengerukan ganas 1,6 juta metrik ton per tahun.

SENGKARUT hilirisasi nikel ala Jokowi dibedah Ekonom Senior UI, Faisal Basri. Bahwa rumus nilai tambah hilirisasi datang dari smelter alias fasilitas pemurnian adalah output dikurangi input antara. Output itu antara lain nickel pig iron (NPI), ferronickel, nickel matte. Sedangkan input antara adalah bijih nikel. “Kesimpulannya, lebih dari 90 persen dinikmati oleh negara atau perekonomian Cina,” ujarnya.
Dari data United States Geological Survey (USGS) diketahui, cadangan nikel di seluruh dunia per 2022. Indonesia dan Australia berada di urutan puncak dengan cadangan 21 juta metrik ton, disusul Brasil dengan 16 juta metrik ton, Rusia 7,5 juta metrik ton, New Caledonia 7,1 juta metrik ton, dan Filipina 4,8 juta metrik ton. Lalu, Kanada 2,2 juta metrik ton, Cina 2,1 juta metrik ton, Amerika Serikat 0,37 juta metrik ton.
Namun, umur cadangan nikel Indonesia paling singkat. Mengapa? Karena ganasnya pengerukan nikel, dengan produksi 1,6 juta metrik ton per tahun. “Diprediksi, usianya cuma 13 tahun. Smelter nambah terus, jadi bisa habis lebih cepat. Didapat hasil Rp510 triliun dengan mengeruk kekayaan kita. Dampak lingkungannya enggak dihitung,” tuturnya.
Dibanding Australia yang sama-sama punya cadangan 21 juta metrik ton, produksi mereka hanya 160 ribu metrik ton per tahun. Dengan begitu, umur cadangan nikel Australia bisa bertahan 131 tahun. Filipina yang punya cadangan 4,8 juta metrik ton nikel akan habis dalam 15 tahun imbas produksi 330 ribu metrik ton per tahun. Nasib nikel Filipina, seperti Indonesia, juga dibelenggu Cina.
Ekspor feronikel Indonesia juga bermasalah. Berdasarkan data per 2022, ekspor produk turunan nikel ini malah mendukung industrialisasi Cina. Memang hitung-hitungan awalnya hanya berfokus pada ekspor turunan nikel berkode HS 72, tidak memasukkan HS 73 dan HS 75. Akan tetapi, ekspor turunan nikel HS 72 memang paling dominan, dimana hampir separuhnya berbentuk feronikel.
“Feronikel itu diproduksi paling banyak, hampir 100 persen (ekspor) ke Cina. Jadi, 96,7 persen feronikel yang dihasilkan ‘brek’ dibawa ke Cina, bukan jadi bahan baku buat diolah lebih lanjut di Indonesia, sejak 2015. Hilirisasi ini semua hampir diekspor ke Cina, tidak memperkokoh struktur industri di Indonesia,” ujar Faisal.
Ternyata, 81,5 persen impor feronickel Cina tahun lalu didatangkan dari Indonesia. Cina tidak perlu mempertahankan pabrik feronikel. Mereka ‘berkotor-kotor’ dengan tenagakan energi kotor di Indonesia, lalu membawa pulang harga bijih nikel murah dan bebas bayar pajak.
“Hilirisasi di Indonesia menopang industrialisasi di Cina. Indonesia kan ekspor ferronickel, itu keluarga HS 72. Dijual ke Cina, diproduksi lebih lanjut di Cina, diekspor ke seluruh dunia. Ekspor Indonesia ke Cina naik, ekspor Cina naik lebih kencang lagi. Itu tidak terjadi sebelumnya-sebelumnya dari 2000-an,” tuturnya.
Hilirisasi beda dengan tambang yang punya masa kontrak. Maka, ia mendesak negara harus benar-benar hadir dengan menyandingkan BUMN di setiap gerak hilirisasi. Ia cukup yakin pemain di hilirisasi nikel tanah air saat ini tak memenuhi berbagai syarat. “Kita harus cepat karena 13 tahun lagi habis (cadangan nikel)… Sudah jelas begini, jangan lagi buat kebijakan merembet ke bauksit dan ke mana-mana dengan cara kontroversial seperti ini, cukup nikel,” tutur Faisal Basri.●(Zian)








