hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Sorong, Draf Pengembangan di Jejak Kota Minyak

Penetapan KEK Sorong sejak 2016 diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di timur Indonesia, bersama Makassar. Koordinatnya strategis, berada pada jalur lintasan perdagangan internasional Asia Pasifik dan Australia.

DIKENAL juga dengan sebutan Kota Minyak. Alasan historisnya, Nederlands Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) memulai survai pad 1908 dan melakukan aktivitas pengeboran minyak bumi di Kota Sorong ini, sejak tahun 1935. Makanya kota di Papua Barat ini dipahami sebagai salah satu kota dengan atribut peninggalan sejarah heritage NNGPM atau kota yang penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda.

Posisi Sorong sangat strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua di samping sebagai kota persinggahan. Kota Sorong juga merupakan kota industri, perdagangan dan jasa, karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial—sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya.

Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di Provinsi Papua Barat tersedia Pelabuhan Sorong (Port of Sorong) dan bandar udara Domine Eduard Osok. Pelabuhan Sorong tidak hanya berfungsi sebagai lalu lintas wisatawan dari dan ke kawasan wisata Raja Ampat, baik melalui darat maupun udara. Sebagai home base bagi perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di Kabupaten Sorong, pelabuhan ini juga menjadi pintu bagi peluang investasi.

Perkembangan kegiatan administrasi pemerintahan di wilayah ini sendiri awalnya terpusat di Pulau Dom, sebuah pulau kecil yang terletak tidak jauh dari Pulau Papua, tetapi masih termasuk dalam batas administratif Kota Sorong. Pada tahun 1935, pemerintah Belanda menjadikan pulau ini sebagai ibu kota pusat pemerintahan Sorong.

Di masa prakemerdekaan, Pulau Dom merupakan kota di kawasan timur Indonesia yang sangat maju dan didukung oleh infrastruktur yang bagus. Bahkan melebihi kondisi kota-kota di Pulau Jawa. Belanda membangun Pulau Doom dengan rapi dengan blok-blok perumahan yang berjajar. Selain Belanda, Jepang juga sempat menguasai Pulau Doom dan membangun sistem pertahanan di sana. Bekas pusat pemerintahan Belanda di wilayah Timur Indonesia semasa Perang Dunia II itu bisa ditempuh 10 menit dengan perahu dari Kota Sorong.

Di era pascakemerdekaan, masuknya pendatang ke wilayah Sorong dipelopori oleh kebijakan redistribusi penduduk di zaman Orde Baru melalui program transmigrasi. Beban populasi Pulau Jawa yang sedemikian padat coba dikurangi. Yakni dengan menyebar sebagian penduduknya ke wilayah lain di Tanah Air. Program ini sudah dirintis di zaman Hindia Belanda tahun 1905 dengan memindahkan 155 KK dari Kedu (Jateng) ke Lampung.

Program yang mulai marak pelaksanaannya pada tahun 1970-an dan 1980-an ini menyasar wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang rendah, termasuk salah satunya adalah wilayah Sorong. Kota Sorong sendiri awalnya salah satu kecamatan yang dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. menjadi Kota Administratif Sorong, dan menjadi daerah otonom sebagai Kota Sorong.

Nama Sorong berasal dari penyebutan oleh suku Biak Numfor. Pada zaman dulu, Suku Biak menjelajahi lautan dari Teluk Cenderawasih ke arah barat dengan naik perahu. Mereka singgah dari satu pulau ke pulau lain, hingga tiba dan menetap di Raja Ampat. “Suku Biak dikenal sebagai penjelajah lautan yang ulung. Mereka juga dikenal sebagai Viking dari Papua,” kata Hari Suroto, dosen arkeologi Universitas Cenderawasih dan Peneliti Balai Arkeologi Papua.

Pelaut Suku Biak menyebut Maladum atau Pulau Dum, sebuah pulau kecil di lepas Pantai Sorong dengan sebutan soren. Dalam perkembangannya, kata soren diucapkan menjadi Sorong. Nama “Daratan Maladum” dengan sebutan Soren yang kemudian dilafalkan oleh para pedagang Thionghoa, misionaris clan Eropa, Maluku dan Sangir Talaud dengan sebutan Sorong—yang kini jadi kota terbesar kedua di Papua, setelah Kota Jayapura.

Tidak jauh dari Pulau Dum terdapat pusat kuliner Tembok Berlin. Pembatas wilayah pantai dengan jalan raya tepi pantai yang bentuknya memanjang. Kawasan ini menjadi lokasi berkumpulnya wisatawan untuk menikmati kuliner laut dan salah satu tempat terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Tembok Berlin di Sorong ini tidak ada kaitannya dengan urusan politik komunis Uni Soviet dengan negara-negara Eropa barat.

Memang kebetulan disebut Tembok Berlin karena dibangun tahun 1990-an, bersamaan dengan runtuhnya Tembok Berlin di Jerman. Menurut Hari Suroto, pada masa itu pemberitaan di media massa lebih banyak menyoroti runtuhnya Tembok Berlin, Jerman. “Kebetulan tembok pencegah abrasi pantai di Kota Sorong ini belum ada namanya. Dan untuk memudahkan menyebut dan mengingatnya, maka dinamakan Tembok Berlin,” kata Hari Suroto.

Saat ini Tembok Berlin di Sorong bernasib sama seperti Tembok Berlin yang asli di Jerman. Semua sudah rata dengan tanah. Tembok Berlin di Sorong dirobohkan untuk reklamasi pantai. Tembok hilang, masih ada Pagoda Sapta Ratna. Bangunan bertingkat tujuh ini memiliki nama asli Qi Bao Ta yang juga menjadi simbol kerukunan antar umat beragama di Kota Sorong. Lokasi ini dijadikan salah satu landmark yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Destinasi penting lainnya adalah Tugu Trikora. Penanda lokasi penerjunan Pasukan Gerak Cepat AURI tahun 1962. Pasukan tersebut datang dalam rangka Operasi Pembebasan Irian Barat yang dinamai Komando Trikora. Tugu ini didirikan untuk mengenang para penerjun AURI yang gugur untuk mengembalikan Papua ke NKRI. Saat itu bendera Merah Putih berkibar pertama kali di tanah Papua yaitu di Kampung Wersar, Teminabuan.

Sejak enam tahun lalu, hadir Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pertama di tanah Papua. Penetapan KEK Sorong sejak 2016 tentu diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di timur Indonesia, bersama Makassar. Berlokasi di Distrik Mayamuk, KEK Sorong dibangun di atas lahan seluas 523,7 ha. Koordinat geografinya strategis, berada pada jalur lintasan perdagangan internasional Asia Pasifik dan Australia. KEK Sorong yang terletak di Selat Sele memberikan keunggulan geoekonomi yaitu potensi di sektor perikanan dan perhubungan laut. Lokasi tersebut juga sangat strategis untuk pengembangan industri logistik, agroindustri serta pertambangan. Berdasarkan potensi yang dimilikinya, KEK Sorong layak dikembangkan dengan basis kegiatan industri galangan kapal, agroindustri, industri pertambangan dan logistik.●

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate