LAMPUNG TENGAH—Tiwul adalah makanan singkong yang kerap diidentikan dengan kemiskinan karena pernah menjadi makanan pokok pengganti nasi beras yang biasa dikonsumsi jadi makanan sehari-hari oleh masyarakat Wonosobo, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar.
Berdasarkan sejarahnya tiwul yang berbahan baku singkong dijadikan pengganti nasi ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat pada era penjajahan Jepang dan tahun 1960-an, ketika harga beras meroket. Tiwul dibuat dari singkong yang dijemur sampai kering atau yang biasa disebut gaplek. Gaplek ini kemudian ditumbuh hingga halus kemudian dikukus hingga matang.
Seorang warga Kampung Sukajawa, Kecmatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah Solikhah (54 tahun), pamor tiwul ini diangkat menjadi jajanan kekinian dengan berbagai varian. Dia membangun Griya Tiwul BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisyah), binaan Muhammadyah.
Hanya saja perjuangan untuk menjadikan tiwul sebagai produk yang berkelas dibutuhkan usaha belajar yang terus menerus. Inspirasinya pada suatu hari pada 2016, dia diminta Bupati Lampung Tengah untuk memasak olahan tiwul untuk suatu acara.
Karena tidak bisa membuat tiwul, ia mencari ke pasar, tapi ternyata tidak ada yang menjual tiwul. Solikah bertanya mengapa Lampung Tengah yang notabene banyak singkong, tapi di pasar tidak ada tiwul. Berarti ada apa?
“Saya punya besan yang punya pengalaman. Ternyata setelah belajar berapa kali gagal. Sampai nangis. Saya otodidak. Selama 2016 belajar setahun gagal, tetapi saya keinginan mengembangkan tiwul begitu kuat,” ujar Solikhah ketika dihubungi Peluang, Jumat (7/1/22).
Motivasinya semakin kuat karena kebutuha dari segmen orang-orang yang punya kesadaran kesehatan dan penderita diabetes. Akhirnya Solikah mampu membuat aneka macam produk olahan tiwul.
Awalnya ia hanya menggunakan cara manual dibantu dengan sebuah mesin untuk menggiling. Sebagai catatan proses membuat tiwul dari mengupas sampai bisa di konsumsi memakan waktu 13 hari.
Beberapa produk tiwul produksinya yakni, tiwul instan, snack pedas tiwul, jipang tiwul, dodol tiwul, cookies tiwul, kerupuk tiwul dan tepung mocaf dengan harga kisaran Rp10 ribu hingga puluhan ribu rupiah. Dari enam varian yang diciptakannya semua laku dipasaran.
Saat ini produknya sudah masuk ke 15 pasar swalayan yang menyediakan toko oleh-oleh. Bahkan sudah banyak toko kue di Bandar Lampung yang meminta produk olahan tiwul, tapi Solikhah mengakui, belum bisa memenuhi.
Sebelum pandemi Solikhah mampu meruap omzet antara Rp10 juta hingga Rp15 juta. Namun pada saat pandemi usahanya juga berimbas. Sejumlah produk terutama yang terkait dengan kesehatan masih berjalan baik, namun camilan terdampak karena orag tidak bisa pergi jauh hingga omzet pun menurun antara Rp5 juta hingga Rp10 juta.
“Saya mensiasatinya dengan belajar marketing melalui WA, Facebook. Tenryata banyak yang pesan secara daring (online), melalui berbagai jasa ekspedisi seperti JNE,” imbuhnya.
Kini peluang pasar Solkhah semakin terbuka dengan adanya peluang untuk ekspor ke luar negeri, yaitu Timur Tengah. Mereka mengingikan tepung mocaf untuk dibuat snack, karena rendah kadar gula.
Solikhah membuktikan hidup adalah perjuangan. Tidak perlu malu untuk belajar dna terus belajar (Irvan.





