
PeluangNews, Jakarta-Upaya deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak kembali digaungkan secara nasional. Dalam momentum Pekan Kesadaran PJB, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar skrining gratis serentak di 29 kota dan kabupaten di 24 provinsi, mulai 24 Januari hingga 14 Februari 2026.
Hasilnya mengejutkan, dari 2.702 anak yang diperiksa, ditemukan 53 kasus PJB dengan prevalensi 2,14 persen—lebih tinggi dibanding angka global maupun Asia Tenggara.
Program yang digagas Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI ini menyasar siswa SD, SMP, SMA, SLB, hingga pesantren. Selain edukasi publik, kegiatan ini menjadi langkah awal pembentukan registri nasional PJB yang selama ini belum dimiliki Indonesia.
Ketua PERKI, dr. Ade Median Ambari, menyebut PJB masih menjadi penyebab signifikan kesakitan dan kematian anak.
“Setiap 100 bayi lahir, ada satu yang menderita PJB. Di Indonesia diperkirakan sedikitnya 45 ribu bayi lahir dengan kondisi ini setiap tahun. Sayangnya, sekitar 60 persen mengalami keterlambatan deteksi,” ujarnya.
Data Asia Tenggara mencatat prevalensi PJB sekitar 9–10 per 1.000 kelahiran hidup. Namun temuan lapangan melalui skrining ini menunjukkan angka yang patut diwaspadai. Pemeriksaan meliputi data antropometri, tanda vital, pemeriksaan fisik jantung, hingga ekokardiografi. Dari 2.702 murid, sebanyak 2.478 menjalani pemeriksaan lanjutan dengan USG jantung.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB PERKI, dr. Oktavia Lilyasari, menegaskan Indonesia belum memiliki data prevalensi nasional yang komprehensif.
“Program ini tidak hanya menjaring kasus lebih dini dan mengoordinasikan rujukan, tetapi juga menjadi fondasi awal registri PJB nasional,” katanya.
Ia mengungkapkan kecenderungan kasus lebih banyak ditemukan pada anak dengan berat badan rendah, stunting, kebutuhan khusus, serta faktor risiko tertentu. Anak yang terdeteksi langsung diberikan edukasi kepada orang tua untuk tindak lanjut ke fasilitas kesehatan.
Dukungan pemerintah pun ditegaskan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang hadir dalam malam puncak peringatan di RS Harapan Kita.
“Setiap tahun puluhan ribu bayi lahir dengan PJB, banyak dalam kondisi berat. Pada 2025 hampir 1,7 juta bayi telah diskrining, namun masih banyak yang belum tertangani optimal. Ke depan, kita harus lebih agresif, memperkuat kapasitas layanan dan menambah spesialis jantung anak serta bedah jantung anak,” tegasnya.
Skala masif skrining ini bahkan diganjar penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Secara Serentak kepada Anak Terbanyak”.
Mengusung tema “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan, Selamatkan Masa Depan Anak”, PERKI menegaskan komitmennya mendukung penurunan angka kematian anak melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk rumah sakit, dinas kesehatan daerah, Yayasan Jantung Indonesia, serta dukungan industri teknologi kesehatan.
“Karena setiap detak jantung adalah harapan,” jelas dr. Ade.
Dengan temuan prevalensi 2,14 persen ini, skrining dini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menyelamatkan masa depan generasi Indonesia.








