hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Sistem Koperasi Barca Digoda Monarki Saudi

Prinsip-prinsip perkoperasian yang sudah mendarah daging di klub sedang diuji dengan tawaran nilai fantastis mencapai Rp196 triliun. Para socios, pemilik klub yang jumlahnya lebih dari 150 ribu orang itu umumnya menolak. Bagaimana dengan manajemen klub?

Jagat sepakbola digemparkan dengan rencana Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) yang akan membeli klub raksasa Spanyol, Barcelona. Nilai penawarannya tidak tanggung-tanggung menyentuh 10 miliar Euro atau sekitar Rp196 triliun. Jika ini terjadi, utang klub pemegang 28 kali trophy La Liga itu bakal lunas sekaligus punya dana segar melimpah.

Namun Barca, sebutan populer klub asal Catalonia itu bukanlah Newcastle United, klub di Liga Inggris. Seperti diketahui MBS melalui Public Investment Fund (PIF), Danantara-nya Arab Saudi, berhasil mengakuisisi kepemilikan saham Newcastle pada 2021. Dengan dana melimpah, klub itu kini kembali diperhitungkan setelah kejayaan penyerang legendaris mereka, Alan Shearer.

Rencana PIF mengakuisisi Barca sebenarnya sudah terdengar sejak 2023. Namun hal itu urung terlaksana. Faktor terbesarnya adalah struktur kepemilikan klub. Pemegang 5 gelar juara UEFA Champions League (kompetisi kasta tertinggi antarklub Eropa) itu menjalankan prinsip perkoperasian dimana klub dimiliki oleh anggota atau disebut Socios.

Untuk diketahui, Socios adalah anggota resmi yang membayar iuran tahunan dan memiliki hak suara dalam pengambilan keputusan penting, termasuk pemilihan presiden klub. Besarnya iuran tahunan, dikutip dari Jobs in Football, sebesar 215 Euro pertahun untuk dewasa dan 107 Euro untuk anak-anak.

Pada akhir tahun lalu, terdapat lebih dari 150.000 socios. Anggota socios ini akan mendapatkan manfaat seperti akses gratis Barca TV dan diskon produk-produk merchandise Barca. Model bisnis Barcelona ini identik dengan prinsip-prinsip perkoperasian seperti keanggotaan bersifat terbuka dan suka rela serta adanya partisipasi ekonomi anggota.

Dalam sejarah kontemporer klub, kekuatan Socios yang menggunakan one man one vote dalam voting itu terlihat saat mereka berhasil mengkudeta Presiden Barca periode 2015-2020, Josep Maria Bartomeu. Sang presiden itu dinilai merugikan klub karena persoalan utang menggunung dan korupsi yang berdampak pada hengkangnya sang mega bintang, Lionel Messi.

Meski belum ada respons resmi dari klub tentang rencana PIF itu namun sinyal penolakan ditunjukan mantan Presiden Barca periode 2000-2003, Joan Gaspart. Menurutnya, klub raksasa Catalan itu tidak akan dijual, meskipun ada tawaran fantastis.  “Barcelona dimiliki oleh sekitar 150.000 anggota dan menjual klub adalah sesuatu yang tidak akan diterima oleh para pemiliknya,” katanya dilansir dari The Olive Press.

Ini membuktikan Mes que un club (lebih dari sebuah klub), bukan sekadar slogan Barca, tetapi mewujud dalam realitas.  Penolakan dari Gaspart cukup rasional karena jika Barca diakuisisi maka model bisnis juga berubah, tidak lagi menggunakan prinsip-prinsip koperasi tetapi korporasi atau kapitalisme. Suara anggota akan hilang diganti dengan suara pemegang modal. Ini yang tampaknya menjadi kekhawatiran para socios.

Prinsip koperasi yang juga dilakukan klub terkenal dengan strategi tiki-taka itu adalah pendidikan anggota. Mengutip statuta FC Barcelona, klub mempunyai badan usaha swadaya yang otonom dan independen, menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan memberikan informasi serta melayani anggotanya secara prima. Klub juga didorong bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya.

Alternatif lain yang sedang diusahakan Joan Laporta, Presiden Barcelona sekarang adalah kerja sama sponsorship. Untuk yang satu ini, socios jelas tidak mempersoalkannya. Bahkan terbaru, Bank BRI menjadi salah satu sponsor Barca hingga 2027. Ini artinya, klub sebesar Barca masih sangat menarik investor global tanpa harus mengubah prinsip-prinsip koperasi yang sudah mendarah daging.

Mengutip Mundo Deportivo, perusahaan-perusahaan Arab Saudi, termasuk grup konstruksi NEOM, juga ingin menginvestasikan puluhan miliar euro di Barcelona untuk membantu klub tersebut mengatasi kesulitan keuangan yang telah berlangsung lama.

Bahkan Laporta telah mengunjungi Arab Saudi bertemu dengan Yasser Al-Misehal, Presiden Federasi Sepak Bola Arab Saudi, di Riyadh, untuk membuka kemungkinan kerja sama antara kedua pihak. Kerja sama sponsor jersey, atau membuka akademi sepak bola di luar negeri merupakan opsi yang sedang dijajaki klub.

Kini bola di tangan Laporta. Akankah Laporta yang juga seorang pengacara itu ia “nekat” menerima godaan dari Monarki Saudi untuk mengatasi kondisi keuangan klub atau mengikuti suara sebagian besar socios. Jika pilihan pertama yang diambil, siap-siap ia akan mengikuti jejak Bartomeu. (Kur).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate