hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
UMKM  

Shrimp Crispy Asal Madura Tembus Pasar Dunia

Siti Rokkayah dan suami, pemilik usaha Malik Shrimp Crispy, di acara Meet The Market, Smesco Indonesia. Foto: Ratih/Peluang
Siti Rokayyah dan suami, pemilik usaha Malik Shrimp Crispy, di acara Meet The Market, Smesco Indonesia. Foto: Ratih/Peluang

PeluangNews, Jakarta – Semangat pantang menyerah dan mimpi besar untuk memajukan pendidikan menjadi bahan bakar utama perjuangan Siti Rokayyah, pelaku UMKM asal Madura.

Melalui produk olahan Malik Shrimp Crispy berbasis hasil laut asli, ia membuktikan bahwa usaha rumahan pun bisa menembus pasar internasional.

Berbekal kedekatan dengan laut dan keseharian berjualan di pasar, Siti melihat potensi besar dari melimpahnya udang tangkapan nelayan Madura. Udang yang digunakan bukan jenis budidaya seperti vaname, melainkan udang liar asli laut yang pakannya alami.

“Kalau ini asli dari laut. Makannya juga dari laut, bukan pakan tambahan,” ujar Siti, saat berbincang dengan PeluangNews, di acara Meet The Market, di Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Awalnya, usaha ini lahir dari kebingungan sederhana. Saat hendak pindah mengikuti suami ke daerah yang jauh dari laut, ia memikirkan cara agar udang segar bisa tetap bernilai dan tahan lama. Ia mencoba menggoreng dan membumbui udang seperti biasa, lalu membawanya sebagai oleh-oleh. Ternyata responsnya positif.

Dari situlah ide membuat udang krispi muncul. Dengan modal mandiri, Siti membeli spinner kecil untuk meniriskan minyak dan mulai menitipkan produknya ke warung-warung sekitar.

Proses produksinya pun tidak instan. Udang segar dibersihkan, dipotong, dicuci higienis, lalu dibekukan. Keesokan harinya, udang dimarinasi sekitar 15 menit, dilumuri tepung, diayak agar tepung berlebih terlepas, lalu digoreng hingga 45 menit—30 menit dengan api besar dan sisanya api kecil. Setelah matang, udang kembali ditiriskan menggunakan spinner, kemudian dioven sebelum akhirnya dikemas.

Tanpa bahan pengawet dan tanpa tambahan kimia, produk ini telah melalui uji ketahanan dan mampu bertahan hingga satu tahun dengan aroma yang tetap terjaga.

“Semua yang mencicipi bilang enak. Itu bukan dari saya yang bilang, tapi dari pelanggan,” katanya.

Meski Madura dikenal sebagai daerah penghasil udang, perjalanan pemasarannya justru tidak mudah di kampung sendiri. Bahkan, menurut Siti, warga sekitar enggan mencicipi produknya di awal.

Yang pertama kali percaya justru seorang pelanggan keturunan Tionghoa yang pernah tinggal di Bali. Setelah mencoba, pelanggan tersebut langsung membeli satu kilogram, lalu meningkat menjadi dua, tiga, hingga sepuluh bungkus.

Dari sana, produk Siti mulai merambah Surabaya dan Bali melalui pameran dan jaringan oleh-oleh. Perlahan, pasarnya meluas hingga ke Malaysia dan Selandia Baru.

Kesempatan mengikuti kurasi dan pameran di Smesco Indonesia menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya. Ia mendaftar melalui informasi di Instagram, lolos kurasi untuk acara Meet The Market Road to Inabuyer 2026 yang diselenggarakan Smesco Indonesia.

Sebelumnya, ia sempat mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kurasi lanjutan hingga ke Hungaria. Meski akhirnya belum bisa berangkat karena kendala pendampingan dan biaya, pengalaman tersebut menjadi motivasi tersendiri.

Dalam sehari, Siti mampu memproduksi sekitar 200 kemasan. Jika permintaan meningkat, kapasitas bisa ditambah. Tantangannya bukan pada produksi, melainkan pada pemasaran agar produk tidak menumpuk di rumah.

“Kami ikhtiar cari pasar ke mana-mana supaya produk kami lebih dikenal,” ujarnya.

Namun di balik semangat bisnisnya, ada tujuan yang jauh lebih besar. Siti dan suaminya aktif mengajar di sebuah madrasah di kampungnya. Setiap tahun, banyak calon siswa terpaksa ditolak karena keterbatasan gedung.

Di samping madrasah tersebut terdapat sebuah rumah besar yang belum terjual. Siti dan suami menyimpan doa dan harapan jika usaha mereka sukses, mereka ingin membeli bangunan itu dan mewakafkannya untuk perluasan madrasah.

“Itu yang bikin kami kuat. Kami ingin kalau sukses nanti, bisa beli tempat itu untuk madrasah. Supaya lebih banyak anak bisa sekolah,” tuturnya haru.

Kisah Siti Rokayyah menunjukkan bahwa UMKM bukan sekadar soal keuntungan. Di balik kemasan udang crispy yang renyah, tersimpan mimpi tentang pendidikan, kebermanfaatan, dan harapan untuk generasi mendatang.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate