BOGOR—Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) menyerahkan Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) ke 301 dan 302 di Kabupaten Bogor. Dengan penyerahan ini Kopsyah BMI memenuhi targetnya menyerahkan 9 HRSH selama Ramadan 1442 Hijriyah.
Acara simbolis penyerahan kunci digelar di Desa Pamager Sari, Kecamatan Jasinga. Sebagai catatan di Kabupaten Bogor, telah membangun lima HRSH di Bogor dari total 302 rumah sejak program ini bergulir sejak 2015.
Rumah HRSH ke 301 diberikan kepada anggota BMI bernama Nunung (59), Warga Pamager Sari, Jasinga, Bohor. HRSH ke 301 diberikan Nunung (59). Rumah yang ditempati sebelumnya setiap hujan, atap rumah berubah bak keran pancuran. Air dengan deras mengguyur ke dalam rumah. Setiap hujan pula, Nunung harus mengulang kepingan kenangan hidupnya yang pahit.
Nunung bahkan kehilangan anak pertamanya bernama Junaidi yang meninggal dunia saat air hujan merembas masuk ke rumahnya. Saat itu, Nunung masih mendekap buah hatinya yang kedinginan dan rasa sakit yang tak terhingga pada usia 30 tahun.
Nunung dan keluarga belum mampu melakukan renovasi rumah. Nunung hanyalah seorang pedagang kue. Setiap pagi, ia berkeliling menjajakan kue yang didapat dari agen. Penghasilannya hanya Rp20 ribu per hari.
Sastra, suami Nunung hanyalah buruh harian membersihkan rumah orang dengan pendapatan hariannya Rp30 ribu. Uang tersebut dipakai untuk menghidupi Nunung, suami dan anak bungsunya.
Rasa bahagia dan syukur serta terima kasih yang luar biasa diucapkan oleh Nunung dan keluarga kepada Kopsyah BMI. Kendati, baru bergabung 3 bulan namun Kopsyah BMI sangat peduli pada kehidupannya.
“Alhamdulillah ya Allah, padahal saya mah baru tiga bulan gabung. Saya ucapkan terima kasih BMI,” ucap Nunung dalam keterangan tetulis, Kamis (6/5/21).
Sebagai catatan total biaya pembangunan HRSH untuk Nunung adalah Rp52 juta, dana bersumber dari Kopsyah BMI Rp51,4 juta dan dibantu dari infaq keluarga Nunung sebesar Rp600 ribu.
Sementara, HRSH ke 302 diserahkan kepada Faisyal, ahli waris non anggota bernama Empi, warga Kampung Banyuresmi, Desa Leuwimekar, Leuwiliang.
Empi menghembuskan nafas terakhir sebelum menempati rumahnya tersebut. Sebelum wafat, Empi hidup sebatang kara dan tak memiliki usaha sama sekali. Rumah sebelumnyadibangun di atas tanah pemberian Keluarga Faisyal.
Kondisi rumah ini menjadi perhatian salah satu Ketua Rembug Pusat bernama Wita yang mengajukan usulan kepada Manajer Kopsyah BMI Cabang Leuwiliang, Warnedi dan akhirnya disetujui.
Warnedi mengenang pertemuan terakhirnya bersama Ibu Empi saat rumah HRSH hampir diselesaikan. Dalam pertemuan itu, Empi seperti memberikan firasat bahwa hidupnya tak akan lama lagi.
“Rumah saya bagus sekali, tapi sayang yah tidak bisa saya tinggali,” ujar Warnedi menirukan ucapan Empi kala itu.
Sang ahli waris Empi, Faisyal mengatakan sebelum meninggal, almarhumah menitipkan doa agar Koperasi BMI tetap Istiqamah menjalankan segala agenda sosialnya.
“Semoga Allah SWT mengganti semua yang diberikan BMI kepada almarhumah dengan rezeki yang lebih besar, amin ya rabbal alamin,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara menyampaikan jiwa gotong royong yang tinggi dari Faisyal dan keteguhan Nunung menjadi anggor BMI meski didera musibah sekalipun menjadi cerminan bahwa anggota BMI tidak hanya tangguh mencoba usaha apapun, namun jiwa sosial anggota BMI harus terus meningkat.
Lanjut Kamaruddin, HRSH yang ke 301 dan 302 merupakan rezeki yang tak disangka-sangka. Rumah paling murah itu Rp25 juta hingga Rp52 juta dibangun BMI di sini.
“Padahal, saya baru ke sini. Allah SWT Kalau sudah ngasih rezeki tak pernah lihat-lihat. Mungkin Bu Nunung dan suaminya pernah salat di malam hari minta sama Allah dapat rumah baru. Mintanya sama Allah bukan sama tetangga. Rumah ini sedekahnya BMI, sedekahnya ibu-ibu yang jadi anggota BMI,” pungkas Kamaruddin.








