JAKARTA—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2021 terjadi deflasi sebesar 0,04 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,53.
Kepala BPS, Margo Yuwono mengatakan, deflasi terjadi karena adanya penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari 106,57 pada Agustus lalu menjadi 106,53 pada September.
“Dengan angka deflasi sebesar 0,04 persen, laju inflasi tahun kalender (Januari-September) sebesar 0,80 persen. Adapun inflasi secara tahunan (year on year/yoy) tercatat 1,6 persen,” ujar Margo dalam konferensi pers, Kamis (1/10/21).
Dari 90 kota IHK, 56 kota mengalami deflasi dan 34 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Gorontalo sebesar 0,90 persen dengan IHK sebesar 105,94 dan terendah terjadi di Palu sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 108,33.
Sementara inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 0,60 persen dengan IHK sebesar 104,98 dan terendah terjadi di Surakarta sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 105,96.
Margo mengungkapkan, terjadinya deflasi akibat dari kelompok pengeluaran makanan minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mengalami deflasi hingga 0,47 persen dan memberikan andil deflasi 0,12 persen.
“Deflasi September 2021 terutama didorong oleh komponen harga bergejolak. Dimana memberikan andil 0,15 persen. Dari andil sebesar ini, komoditas yang mendorong deflasi diantaranya adalah telur ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah,” paparnya.
Harga komoditas tersebut memang di pasar sedang anjlok. Hal ini sudah diproyeksikan Bank Indonesia berdasarkan hasil Survei Pemantauan Harga yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada minggu IV September 2021.
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono di Jakarta, pada 24 September lalu menyatakan penyumbang utama deflasi September 2021 sampai dengan minggu keempat yaitu komoditas telur ayam ras sebesar -0,08% (mtm), bawang merah dan cabai rawit masing-masing sebesar -0,03% (mtm), cabai merah sebesar -0,02% (mtm), serta bawang putih sebesar -0,01% (mtm).








