hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Senyum Lebar Pembuat Kalimba Setelah 2 Tahun Pandemi

BANYUWANGI— Senyum Bahagia Supriyanto pembuat karimba/kalimba, alat musik khas Afrika, saat dikunjungi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas.

Di bengkel sekaligus rumahnya, Supriyanto bercerita jika kembali bisa ekspor alat musik yang dibuatnya sejak 2006 lalu. Pandemi Covid-19, membuatnya berhenti berproduksi selama 2 tahun.

“Dua tahun lebih tidak produksi. Baru beberapa bulan ini mulai produksi. Permintaan dari luar negeri mulai mengalir,” ujar Supriyanto, Kamis (21/4/22).

Disadur dari wikipedia, kalimba/karimba adalah sebuah alat musik perkusi. Karimba/kalimba ini adalah versi modern dari alat musik mbira dari Afrika bagian selatan.

Kalimba terdiri dari sebuah kotak suara dengan tuts-tuts logam yang menempel ke bagian atas untuk memberikan not-not berbeda. Nama lainnya adalah “piano jempol” ala Afrika.

Namun kalimba buatan Supriyanto ini, terbuat dari limbah batok kelapa, beberapa kayu dan jeruji sepeda. Jika diperhatikan, bentuk alat musik kalimba ini sederhana. Ukurannya kecil, berdiameter sekitar 20-25 cm, seukuran dengan batok kelapa sebagai bahannya.

Di atas permukaan kayu, ada tujuh besi jeruji yang digunakan sebagai alat petik. Dan supaya tampilannya lebih menarik, permukaan kayu kalimba dihias dengan warna-warni cat dengan corak artistik. Cantik!

“Sebagian memang dari limbah. Dan ini menjadi hal yang unik kemudian laku hingga diekspor,” ujar Supriyanto.

Supriyanto bercerita, dirinya merintis bisnis kalimba setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai kuli bangunan di Bali dan pulang ke Banyuwangi.

Pada 2006, Supriyanto mulai membuat kalimba dengan bahan baku limbah batok kelapa, beberapa kayu dan jeruji sepeda.

Dengan 8 karyawan yang dibina, dalam sehari Supriyanto mampu memproduksi karimba sebanyak 600-700 buah. Sedikitnya dalam sebulan ia membutuhkan kurang lebih 75 ribu hingga 140 ribu batok kelapa. Setelah diproses, satu buah Karimba ia bandrol dengan harga Rp20.000-50.000.

“Tingkat kesulitannya pada proses pengecatan karena butuh ketelatenan dan kesabaran. Apalagi ini pengecatannya disesuaikan dengan pesanan,” ujar Supriyanto.

Berkat keuletan dan semangat pantang menyerah, Bali dia jadikan tujuan awal penjualan produk buatannya. Lalu di tahun 2009 Supriyanto mulai menggandeng beberapa toko kesenian di Pulau Dewata.Sejak saat itulah permintaan karimba buatannya terus meningkat. Kini tak hanya Bali sebagai sasaran empuk penjualan Karimba.

Karimba bikinannya juga dikirim hingga ke Eropa, Afrika, Asia Tengah dan Amerika. Maka tak heran jika bisnisnya berbuah manis. Dalam sebulan, omzet Karimba buatannya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate