JAKARTA—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 9,36 persen dari 205,36 juta angkatan kerja atau setara dengan 19, 10 juta orang terdampak pandemi Covid-19. Meskipun demikian jumlah pengangguran akibat pandemi turun dari 2,56 juta orang pada Agustus 2020 menjadi 1,62 juta orang per Februari 2021.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan dari yang bukan anggatan kerja karena Covid-19 juga turun 110 ribu orang menjadi sekitar 650 ribu orang, tidak bekerja karena Covid-19 turun 660 ribu orang menjadi 1,11 juta orang, dan 15,72 juta orang bekerja dengan pengurangan jam kerja.
“Mayoritasnya mereka mengalami pengurangan jam kerja dan tentu ini nanti akan berdampak dari sisi pendapatan,” ungkap Suhariyanto di Jakarta, Rabu (5/5/21).
BPS juga mencatat penduduk yang bekerja sebanyak 131,06 juta orang, meningkat sebanyak 2,61 juta orang dari Agustus 2020. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (0,34 persen poin).
Sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Sektor Transportasi dan Pergudangan (0,30 persen poin).
Jumlah angkatan kerja pada Februari 2021 sebanyak 139,81 juta orang, naik 1,59 juta orang dibanding Agustus 2020. Sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik sebesar 0,31 persen poin.
Pengangguran Muda Tertinggi di Asteng
Sementara Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan proporsi pengangguran berusia muda di Indonesia hampir menyentuh angka 20 persen pada 2020. Sementara negara lain seperti Filipina, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia masih berada di bawah 15 persen.
“Boleh dibilang tingat pengangguran muda di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara,” ujar Faisal dalam diskusi bertajuk ‘Teknologi Digital dan Solusi Ketenagakerjaan’, Senin (3/5/21).
Tingginya pengangguran berusia muda itu menunjukkan masih banyak masalah dalam penciptaan tenaga kerja di Indonesia. Hal ini terkait dengan tidak cocoknya antara penciptaan lapangan kerja dengan kualifikasi lulusan baru yang terjadi sebelum pandemi Covid-19.
“Pengangguran yang umurnya antara 20-29 atau di 20an tahun sudah mengalami peningkatan (pengangguran) sebelum pandemi. Sementara, yang usianya lebih tua dari itu relatif lebih flat (datar). Jadi kita dihadapkan pada masalah educated youth employment,” pungkasnya.








