Sekitar tahun 2000, Kota Sawahlunto nyaris jadi kota mati karena batu bara dianggap sudah hampir habis. Pada situasi seperti itu, penduduk Sawahlunto hanya tersisa sekitar 20 persen.

Adalah De Greve dan Kalshoven, geolog Belanda, yang menyelidiki adanya batu bara di Sawahlunto. Berdasarkan penelitian mereka, di daerah itu ditemukan batu bara dalam deposit lebih dari 200 juta ton. Pada saat itu, masalah pembebasan tanah mengikuti hukum adat Minangkabau. Namun, jumlah ganti rugi oleh pemerinrah kolinial Hindia Belanda yang tak sesuai membuat masyarakat adat rugi.
Sebermula Sawahlunto hanya desa kecil yang dikelilingi jenggala (hutan). Pada 1886 terjadi pembebasan lahan tambang batu bara di kota ini. Daerah itu diberikan untuk dijadikan areal penambangan batu bara atas dasar akta notaris yang dikeluarkan oleh E.L van Rouvery selaku Asisten Residen Tanah Datar dan Djafar Sutan Pamuncak sebagai Kepala Laras Silungkang. Penerimanya yaitu Hendrik Yakobus Shuuring, pemegang konsesi pertambangan kolonial Belanda.
Terletak 95 kilometer sebelah timur laut Kota Padang, Sawahlunto diresmikan pada 1 Desember 1888. Nama ini gabungan dua kata, Sawah dan Lunto. Sawah di daerah itu terbentang luas. Lundo diambil dari nama sungai Batang Lunto di daerah itu. Pusat Kota berjarak 6 kilometer dari Muaro Kalaban melewati Jalan Raya Provinsi yang menghubungkan Sawahlunto dengan Batusangkar.
Luas wilayah 273,45 km². Kota di sebelah timur laut Kota Padang yang duhuni 245.090 penduduk ini (BPS, 2024) dikelilingi oleh tiga kabupaten di Sumatera Barat, yaitu Tanah Datar, Solok, dan Sijunjung. Secara geografis, tempat ini terletak di lembah yang sempit di sepanjang pegunungan Bukit Barisan, sehingga membentuk format kuali. Sebab itu, warga sekitar menyebutnya Kota Kuali.
Sejarah Sawahlunto terkait erat dengan penemuan cadangan batubara oleh ahli geologi Belanda, Willem Hendrik De Greve, sekitar tahun 1867. Sejak tahun 1888, tambang batubara pertama di Ombilin mulai beroperasi. Inilah kota tambang pertama di Indonesia dan jantung industri kolonial Belanda. Untuk mendukung industri, dibangunlah infrastruktur seperti jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto ke Pelabuhan Teluk Bayur di Padang.
Eksplorasi cadangan batu bara dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor. Untuk itu, Belanda menginvestasikan 5,5 juta gulden. Sejak saat itu pula, Sawahlunto dikenal sebagai kota tambang hingga penjuru Nusantara, bahkan Eropa. Kini, tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto masuk dalam salah satu dari warisan budaya dunia kelima milik Indonesia. Pengakuan itu dicetuskan dalam sidang ke-43 Komite Warisan Dunia UNESCO PBB di Baku, Azerbaijan, 6 Juli 2019.
Situs Ombilin menjadikannya salah satu dari sedikit situs warisan industri di Indonesia yang mendapat pengakuan global. Banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih utuh di pusat tambang batubara terbesar di Asia Tenggara itu. Antaranya, Museum Kereta Api, Gedung Info Box, dan bekas penjara “Lubang Mbah Suro”, Terowongan Lubang Kalam (Gelap) sepanjang 828 meter, yang dibangun pada 1892–1894, yang di dalamnya terdapat 33 ruangan untuk berlindung bagi pekerja saat kereta melintas.
Di balik sebuah projek tambang, Ombilin Sawahlunto niscaya menyimpan sejarah kelam, yang faktanya lazimnya ditutup-tutupi. Ribuan pekerja, termasuk tahanan politik, dipaksa bekerja di tambang dalam sistem kerja paksa yang tak manusiawi. Kaki-kaki mereka dirantai satu sama lain seperti binatang agar tidak melarikan diri. Dari situ muncul sebutan “orang rantai”.
Sawahlunto hampir jadi kota mati setelah persediaan batu bara mulai menipis. Melalui kebijakan revitalisasi dan konservasi, Sawahlunto bertransformasi menjadi kota wisata tua multietnis, merangkum orang Minangkabau, Jawa, Batak, Tionghoa, dan Sunda, yang hidup harmonis. Kota ini juga terkenal dengan kerajinan Songket Silungkang, sebuah jenis kain tenun tradisional yang khas. Saat ini, Sawahlunto berkembang menjadi kota wisata
Selain wisata sejarah, Sawahlunto menawarkan keindahan alam seperti Danau Biru yang jernih dan Puncak Cemara yang sering disebut “Kota Kuali” karena pemandangannya saat malam hari dari atas bukit. Puncak Polandia juga terkenal dengan tanda “Sawahlunto” yang mirip dengan Hollywood Sign. Pemandangan alam seperti Danau Biru dan Puncak Polandia adalah anugerah alam yang memesona.
Dengan tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto terbilang sangat unik karena dikenal sebagai kota yang memiliki situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara. Tambang Batu Bara Ombilin ini juga menjadi tambang batu bara satu-satunya yang lokasinya berada di bawah tanah. Bangunan yang mirip dengan pertambangan di Belgia ini masih memiliki beberapa peninggalan asli, seperti terowongan Mbah Soero, perumahan pekerja dan pekerja tambang (Tangsi Baru dan Tanah Lapang), pemfilteran batu bara, pabrik kereta api, kantor pemerintah, permukiman, dan pemkot.
Sebutan lain untuk Sawahlunto adalah Kota Arang. Itu dimaksudkan sebagai identifikasi wujud batu bara yang berwarna hitam seperti arang. Batu bara merupakan sumber energi yang menghidupkan warga kota itu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Julukan kota ini ditandai dengan didirikannya patung Orang Rantai yang terpasang di Kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero.
Sebutan Orang Rantai ini dijuluki untuk rakyat pribumi yang menjadi budak-budak Belanda dan dipekerjakan sebagai penambang. Tugas orang-orang tersebut yaitu mengangkat barang tambang dari dalam lubang dengan kedalaman belasan meter.
Orang Rantai bekerja siang hingga malam hari tanpa henti. Kaki mereka dirantai agar tidak bisa lari. Apabila melawan, mereka akan didera cambukan dan berbagai macam siksaan. Akibat siksaan itu, tak sedikit dari mereka yang akhirnya jatuh sakit, ditaruh begitu saja dan meregang nyawa di dalam lubang tambang. Lubang ini disebut dengan Lubang Mbah Soero.
Sekitar tahun 2000, Kota Sawahlunto sempat dianggap sebagai kota mati. Hal ini dikarenakan batu baranya dianggap sudah hampir habis, sedangkan perekonomian Sawahlunto nyaris seratus persen bergantung pada pertambangan batu bara. Maka, ketika produksi batu bara hampir habis, penduduk Sawahlunto hanya tersisa sekitar 20 persen.
Tak ingin menyerah pada nasib, pemerintah setempat akhirnya membanting stir dengan mengubah kota arang menjadi kota wisata. Kota Sawahlunto pun dipromosikan sebagai Heritage City, kota peninggalan kolonial Belanda yang dahulu terkenal sebagai pusat pertambangan. Keberagaman budaya di Sawahlunto melahirkan keharmonisan pada kehidupan masyarakat melalui tradisi Makan Bajamba atau makan besar secara bersama-sama. Tradisi ini digelar di Lapangan Segitiga, setiap 1 Desember.
Lahan bekas tambang diubah menjadi berbagai macam objek wisata: Taman Satwa Kandi, Arena Road Race, Camping Ground, Kebun Buah, Ruang Terbuka Hijau, dan tempat wisata lainnya sejak tahun 2016-2017.●(Zian)





