hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Satu dari Tujuh Anak Indonesia Terpapar Timbal

Ilustrasi: Istimewa

PeluangNews, Jakarta – Paparan timbal dari lingkungan sekitar terus menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak-anak di Indonesia. Survei Kadar Timbal Darah (SKTD) tahap pertama menunjukkan bahwa satu dari tujuh anak memiliki kadar timbal darah di atas batas aman. Temuan ini disampaikan dalam diseminasi nasional SKTD, Rabu (21/1), yang melibatkan Kementerian Kesehatan, BRIN, dan mitra pembangunan lintas sektor.

SKTD bertujuan memberikan gambaran awal tingkat paparan timbal pada anak dan mengidentifikasi faktor risiko utama di lingkungan rumah tangga. Surveilans dilakukan dari Mei hingga November 2025 di enam provinsi dengan melibatkan 1.617 anak usia 12–59 bulan. Kegiatan mencakup pemeriksaan kadar timbal darah, pengujian sampel lingkungan dan produk rumah tangga, serta konseling bagi orang tua atau wali.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Then Suyanti, MM, menegaskan, “Paparan timbal tidak memiliki batas aman bagi anak-anak. Dampaknya dapat bersifat permanen, mulai dari gangguan tumbuh kembang, penurunan kecerdasan, hingga berbagai masalah kesehatan jangka panjang. SKTD memberi dasar ilmiah bagi intervensi klinis, lingkungan, dan kebijakan publik yang tepat sasaran.”

Foto: Dok. BRIN

Hasil surveilans menunjukkan anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas memiliki risiko 61 persen lebih tinggi mengalami kadar timbal darah ≥5 µg/dL. Faktor risiko lain termasuk pekerjaan orang tua terkait timbal, penggunaan alat masak logam, serta pemakaian bedak dan kosmetik tertentu yang meningkatkan kadar timbal darah 7–10 persen.

Sebaliknya, akses pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi berkorelasi dengan kadar timbal darah anak lebih rendah, menegaskan perlunya pendekatan kebijakan berbasis keadilan untuk melindungi semua anak Indonesia.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, menekankan metodologi penelitian yang ketat mulai dari desain studi, pemilihan sampel, hingga analisis data. “Koordinasi lintas pihak memastikan data menjadi rujukan kebijakan berbasis bukti ilmiah,” katanya.

Temuan SKTD juga mengungkap sumber utama paparan timbal di rumah. Lebih dari 20 persen sampel alat masak logam, alat makan keramik dan plastik, kosmetik, pakaian anak dan orang tua, serta mainan anak mengandung timbal melebihi ambang batas. Setiap kenaikan dua kali lipat kadar timbal di tanah berhubungan dengan peningkatan rata-rata kadar timbal darah anak sebesar 8 persen.

Epidemiolog Vital Strategies, Edwin Siswono, menyebut SKTD sebagai dasar strategi pengurangan paparan timbal pada anak, sekaligus melengkapi pedoman klinis Indonesia yang selaras rekomendasi WHO.

Direktur Yayasan Pure Earth Indonesia, Budi Susilorini, menekankan perlunya surveilans berkelanjutan, pencatatan kasus, pemantauan faktor risiko lingkungan, dan pemetaan wilayah berisiko. “Hasil SKTD tahap pertama menjadi landasan penguatan kapasitas SDM kesehatan dan laboratorium, serta integrasi pemeriksaan kadar timbal darah ke program nasional,” katanya.

Menutup diseminasi, Dr. Then menegaskan, pengendalian paparan timbal harus melibatkan koordinasi lintas sektor—kesehatan, lingkungan, industri, dan perdagangan—untuk kebijakan yang konkret dan berkelanjutan. Temuan SKTD diharapkan mendukung penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia Bebas Timbal.

Dengan dukungan data ilmiah, kolaborasi riset dan kebijakan ini memperkuat peran BRIN dalam perlindungan kesehatan anak, membangun sistem kesehatan lingkungan yang lebih adil, responsif, dan berkelanjutan.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate