JAKARTA—Pasirlangu adalah sebuah desa di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia, terletak tidak jauh dari kaki Gunung Burangrang. Penduduk desa ini menggantungkan hidupnya pada pertanian, terutama sayur mayur.
Sarah Apriliani Nurjanah, salah seorang anak petani dari Desa Pasirlangu, yang sejak remaja punya cita-cita mendorong kemajuan pertanian, dengan membuka akses pasar dan berharap kontribusinya nanti bakal meningkatkan kesejahteraan para petani.
Cita-cita mantan guru Biologi di sebuah sekolah swasta di Jakarta ini baru kesampaian pada 2019, ketika ia mendirikan Sobat Veggies pada 2019 dengan kantor pemasaran di Menara 165, Jakarta Selatan.
“Untuk saat ini mitra petani kami tersebar di Jawa Barat, Lembang, Bandung Barat, Sukabumi, Cipanas, Bogor dan Cianjur,” ujar alumni Biologi, Universitas Al Azhar Indonesia ini ketika dihubungi Peluang, Rabu (10/11/21).
Perempuan kelahiran Bandung, 9 April 1992 kerap mengunjungi desanya karena orangtuanya masih tinggal di sana. Para petani di desa itu juga menjadi mitranya. Apalagi keluarganya semua adalah petani.
“Pasirlangu sampai saat ini merupakan desa yang terfokus ke pertanian holtikuktura. Produksi total seluruh desa pasirlangu itu bisa mancapai ratusan ton perhari nya, untuk supplai ke pasar induk. Sobat Veggie sendiri menyerap 2-3 ton per pengiriman,” ungkap Sarah.
Dia juga menyebut selain akses pasar yang “profitable” dan tidak teratur, kendala di pertanian tentunya banyak, terkait kurangnya teknologi mempengaruhi kapasitas produksi. Petani juga menghadapi kendala modal untuk tanam.
Sarah menyampaikan Sobat Veggie terdiri dari lokal, hidroponik, organik bahkan impor dengan jenis sayuran di atas 100 produk. Pasarnya terdiri dari dua jenis yaitu B2B dan B2C.
Untuk pemasaran segmen B2B, Sobat Veggie menggunakan platform daring, market place dan horeka. Sementara untuk B2C dijual reatail ke perumahaan melalui keagenan. Omzet Sobat Veggie sendiri berkisar Rp350 juta hingga Rp500 juta per bulan.
“Sobat Veggies sendiri lahir beberapa bulan sebelum pandemi. Saya pikir awalnya ini akan menjadi kendala, namun ternyata malah sebaliknya, permintaan meningkat dari sebelum pandemi,” imbuh Sarah yang juga mengikuti program Jakpreneur.
“Rencana bisnis kami ke depan memperluas marketi di Jabodetabek dan sekitarnya. Kemudian menambah mitra petani dan supplier. Juga beberapa tahun kedepan mungkin menjajaki pasar ekspor,” pungkas Sarah (Irvan).





