KEDIRI—-Menjadi martir wirausaha, demikian tekad tiga bersaudara Heri Susanto, Toni Kristianto da Tomi Krisnawan ketika mendirikan usaha tas berbahan kulit sapi dengan brand “Sapindelick”. Mereka hanya berbekal pendidikan desain grafis dan orangtua mereka pun tidak ada yang jadi wirausaha.
Ketiganya merintis usaha dikawasan Kampun Inggris Pare, kemudian pindah ke Desa Besuk Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri pada 2015, namun legalitas usahanya pada 2016. Modal awalnya Rp50 juta termasuk peralatan dan dipasarkan awalnya dengan teman dekat.
“Mulanya bahannya dari kanvas, kemudian ada permintaan bahan kulit. Akhirnya kombinasi, tetapi kemudain malah keterusan kulit sapi dan diterima pasar,” ujar Tomi Krisnawan ketika dihubungi Peluang, Kamis (28/1/21).
Mereka juga membuat produk tas dengan mesin, tetapi produk handmade tetap saja banyak permintaan, Padahal harganya jauh di bawah kisaran Rp650.000, sedangkan tas handmade harga bisa mencapai Rp1,6 juta ke atas.
Kualitas produk handmade “Sapidelick” tidak kalah dengan brand ternama. Bahkan untuk produk dari “Sapindelick” dapat digaransi seumur hidup. Jika jahitan atau kulit rusak dalam pemakaian normal, bisa dikirim kembali untuk diperbaiki. Mereka sengaja merancang karyanya agar dapat digunakan turun-temurun dan bisa diwariskan.
Sebelum pandemi Sapindelick mampu meraup omzet antara Rp30-40 juta Produk tas mereka sudah punya pembeli dari mancanegara, Singapura, Tiongkok, Australia, Belanda. Amerika Serikat dan terakhir Kanada.
Pandemi sempat memukul usaha mereka hingga omzet turun 50%. Namun kemudian kembali normal sejak November lalu dengan cara penjualan daring.
“Kami juga sudah resmi mematenkan brand “Sapindelick”, alasannya adalah agar jangkauan pemasaran bisa lebih luas lagi dan Alhamdulillah produk kami juga sudah go internasional”, jelas Tomi.
“Sapindelick” memiliki desain tas yang cukup unik dan yang pasti beda dengan merk lainnya. Mereka juga melayani pemesanan sesuai keinginan konsumen seperti tas rangsel, dompet dan lain sebagainya.
“Ke depan, kami rencana membuat display di berapa tiitk, paling tidak Surabaya, Jakarta dan Bandung. Hal ini dilakukan agar pelanggan tahu barangnya, sebab kalau hanya daring kelemahannya tidak bisa mengetahui seperti apa produknya,” pungkas Tomi (Van).








