TANGERANG—Berilah pancing bukan ikan. Pepatah ini yang rupanya dijalankan Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) untuk memberdayakan anggotanya. Salah satu pemberdayaan itu ialah mendorong anggota menjadi peternak bebek petelur.
Manajer Divisi Pemberdayaan Kopsyah BMI Muhammad Suproni menyampaikan hingga kini BMI telah menyalurkan 1.070 bebek petelur untuk diberdayakan kepada anggota. Sebanyak tujuh peternak telah menjadi mitra binaan pemberdayaan BMI. Dengan semangat kemandirian dan gotong royong yang menjadi karakter koperasi.
Para peternak tersebar di Kabupaten Tangerang seperti di Mauk, Sukamulya, Sukadiri, Curug, dan Jayanti. Sementara di Kabupaten Serang di Kecamatan Tirtayasa dan Pandeglang di Kecamatan Saketi. Total sudah ada tiga kabupaten di Provinsi Banten yang telah dilayani.
“Kegiatan pemberdayaan bebek petelur dilakukan dengan terencana dan terukur. Mulai dari survei awal sampai monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara teratur. Termasuk melihat kemampuan peternak dari pakan, pemeliharaan dan perawatannya,” ujar Suproni dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/4/21).
Satu peternak binaan mendapatkan 100 ekor bebek siap bertelur dan berusia enam bulan. Sampai sekarang tingkat produktivitasnya mencapai 60 persen dari 100 ekor bebek petelur di setiap peternak binaan. Artinya dari 100 bebek ada 60 butir perhari yang didapat anggota.
Setiap satu petani mendapatkan 100 ekor bebek petelur dari BMI. Harga per ekornya seharga Rp75 ribu. Tempo pemeliharaan bebek mencapai 6-7 bulan. Dengan biaya Rp7,5 juta petani mendapatkan omzet Rp10,8 juta dari hasil telor selama kurun waktu pemeliharaan. Kemudian semua bebek menjadi milik anggota.
”Setelah dikurangi modal Rp7,5 juta, selisihnya dibagi dengan sistem bagi hasil 65 % untuk peternak dan 35 % untuk koperasi. Dalam waktu 6-7 bulan, peternak mendapat keuntungan Rp2,1 juta dari hasil penjualan telur bebek,” ucap Suproni.
Jika berhasil di tahun pertama, peternak mendapatkan 200 ekor bebek petelur di tahun kedua, dan jumlahnya makin berlipat di tahun-tahun kemudian. Kegiatan pemberdayaan dilakukan dengan terencana dan terukur.
Mulai dari survei awal sampai monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara teratur. Agar program pemberdayaan berjalan optimal, setiap program dikontrol secara berkala. Ini menjadi usaha baru untuk anggota, karena telur bebek ini kan setiap hari pendapatannya. Tidak menunggu panen seperti pertanian.
Sementara Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara mengatakan, Peran sosial dan ekonomi yang dijalankan BMI ibarat dua sisi dari satu mata uang yang selalu beriringan. Sebagai lembaga ekonomi.
Koperasi dituntut untuk mengejar profit demi mencapai tujuan utama yaitu meningkatkan kesejahteraan anggota. Pada sisi lain, tanggung jawab sosial sudah melekat dalam usaha lembaga sokoguru perekomian ini. Termasuk pemberdayaan anggota Koperasi BMI.
”Lewat pemberdayaan, BMI terus membangkitkan ekonomi umat terutama dalam membantu anggota agar bisa bertahan dan menuai hasil positif di tengah badai pandemi ini. Berbagai upaya dilakukan dengan keikhlasan dan penuh semangat gotong royong menunjukkan solidaritas untuk saling menguatkan,” jelasnya.








