hayed consulting
hayed consulting
octa vaganza

Rehabilitasi Irigasi Dorong Swasembada Pangan di Halmahera Timur

Ilustrasi irigasi.
Ilustrasi irigasi.

PeluangNews, Jakarta-Kementerian Pekerjaan Umum terus mengoptimalkan layanan irigasi guna mendukung produktivitas pertanian dan mewujudkan swasembada pangan. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Rehabilitasi Jaringan Irigasi Akedaga dan Opiyang sepanjang 5,7 kilometer di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, rehabilitasi jaringan irigasi akan menjamin ketersediaan air untuk sawah para petani.

“Kementerian PU memastikan air yang ada di bendungan, bendung, dan sungai bisa mengalir ke sawah-sawah terjauh. Kami melakukan rehabilitasi daerah irigasi yang menjadi kewenangan Pusat, Provinsi, Kabupaten, dan Kota karena sudah ada Inpres Irigasi No 2 Tahun 2025 yang memungkinkan kami mengerjakan irigasi kewenangan non Pemerintah Pusat,” kata Menteri Dody, dalam keterangan resminya, (31/8/2025).

Rehabilitasi Jaringan Irigasi Akedaga di kawasan Akedaga–Tutiling–Meja telah dilaksanakan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara sejak Maret 2025. Pekerjaan meliputi perbaikan bangunan bagi dan sadap serta saluran pembawa sekunder sepanjang 1,4 km. Air irigasi dipasok dari Bendung Akedaga yang memanfaatkan aliran Sungai Dodoga.

Sementara itu, rehabilitasi Jaringan Irigasi Opiyang di kawasan Opiyang–Mancalele mencakup perbaikan bangunan kantong lumpur, bangunan sadap, dan saluran pembawa primer serta sekunder sepanjang 4,3 km. Hingga kini, progres konstruksi telah mencapai 70 persen dan ditargetkan rampung pada Desember 2025.

Kepala BWS Maluku Utara, M. Saleh Talib, memastikan aliran air ke sawah tetap terjaga meski proyek tengah berlangsung.
“Selama proses konstruksi, air irigasi tetap mengalir menggunakan saluran pengelak dan pompanisasi. Rehabilitasi jaringan irigasi diperlukan untuk menjaga saluran tetap berfungsi optimal. Diharapkan dengan ketersediaan air yang cukup, produktivitas pertanian tanam padi dapat meningkat dan mampu mewujudkan swasembada pangan,” ujarnya.

Sutarno, Kepala Desa Toboino yang juga seorang petani, mengakui manfaat besar dari sistem irigasi tersebut.
“Adanya sistem irigasi DI Akedaga membantu kelancaran dan kecukupan air bagi sawah petani sehingga konflik perebutan air tidak terjadi. Untuk ketersediaan air, kami cukup. Dalam sekali panen kami bisa menghasilkan 3 ton per hektare,” katanya.

Hal senada disampaikan Supandi, petani Desa Sidomulyo yang sawahnya berada di DI Akedaga.
“Kami bersyukur dengan adanya rehabilitasi jaringan irigasi, kebutuhan air tercukupi sehingga tanaman padi bisa tumbuh baik,” pungkasnya.

pasang iklan di sini