JAKARTA—Badan Pusat Statisk (BPS) mengungkapkan pertumbuhan Ekonomi Indonesia triwulan III-2021 terhadap triwulan III-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 3,51 persen (y-on-y). Realisasi ini lebih rendah dibandingkan proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mencapai 4,5%.
BPS merinci dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 14,06 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 29,16 persen.
Kepala BPS Margo Yuwono menyampaikan, produk domestik bruto kuartal III yang dihitung atas harga dasar berlaku mencapai Rp4.325,4 triliun dan kalau dihitung harga dasar konstan Rp2.815,9 triliun.
“Kalau dihitung perekonomian pada 2021 dibandingkan kuartal II 2021 tumbuh 1,55% dan dibandingkan kuartal III 2020 3,51%. Sementara secara kumulatif tumbuh 3,24%,” ujar Margo dalam Jumpa Pers virtual, Jumat (5/11/21).
Meski berada dalam zona positif, pertumbuhan ekonomi Indonesia ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada kuartal II-2021. Sekedar mengingatkan, pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua mencapai 7,07% yoy.
Dikatakannya, penurunan angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2021 ini tak lepas dari adanya peningkatan kasus harian Covid-19 yang membuat pemerintah menarik rem darurat berupa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan PPKM Level.
“PPKM ini berpengaruh besar karena menghambat mobilitas dan mengganggu aktivitas ekonomi secara keseluruhan,” ujar Margo.
BPS juga mencatat Ekonomi Indonesia triwulan III-2021 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 1,55 persen (q-to-q).
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,10 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,28 persen.
Pertumbuhan ekonomi (y-on-y) pada triwulan III-2021 mengalami peningkatan di hampir seluruh wilayah, kecuali kelompok di Pulau Bali dan Nusa Tenggara yang mengalami kontraksi pertumbuhan 0,09 persen. Namun, Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 57,55 persen mencatat pertumbuhan sebesar 3,03 persen.








