
PeluangNews, Jakarta-Keluarga besar KSP Kopdit Pintu Air se-Kabupaten Sikka menggelar Misa Syukur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) bersama.
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran pengurus, pengawas, manajemen pusat, komite, hingga manajemen cabang dan unit titik kumpul.
Misa syukur ini dipimpin oleh Pater Paskalis Patut, O.Carm dan didampingi oleh Rd. Moses Kuremas, Pr. Dalam khotbahnya, Pater Paskalis menggarisbawahi pentingnya memiliki kepastian sebelum bertindak dan berbicara.
Merujuk pada bacaan Yohanes tentang kesaksian Roh, Air, dan Darah, ia menegaskan bahwa dalam konteks organisasi KSP Kopdit Pintu Air, ketiga bukti tersebut bermuara pada satu kata: Integritas.
“Jika bukti batin kita benar, maka kesaksian kita pun nyata. Integritas adalah fondasi agar kita tidak ‘ngawur’ dalam melayani. Kita harus yakin dulu, baru bicara. Hidup dalam kepastian itu dibuktikan dengan menjaga marwah kepercayaan dan persaudaraan,” tegas Pater Paskalis.
Pater Paskalis juga menyoroti gaya pelayanan Yesus yang tidak menjaga jarak, bahkan terhadap mereka yang terpinggirkan seperti penderita kusta.
Ia mengajak seluruh manajemen Pintu Air untuk berani “turun ke lapangan” dan menyentuh kenyataan hidup anggota yang pahit.
Pater Paskalis memperkenalkan istilah Solidaritas Jamahan. Menurutnya, pelayanan sejati bukan sekadar administrasi, melainkan kehadiran nyata di tengah anggota.
“Saya selalu berteriak tentang investasi, jangan hanya konsumtif. Mental konsumtif tidak akan membuat kita maju. Spirit koperasi itu adalah ‘harus bantu’. Artinya, jika pinjam jangan lupa cicil. Kelebihan koperasi kita adalah adanya kontrol persaudaraan. Jangan sampai setelah pinjam, lalu menghilang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pater Paskalis mengingatkan agar konflik internal di dalam kantor cabang atau unit segera diselesaikan. Ia menekankan bahwa mustahil menarik anggota untuk aktif jika di dalam internal kantor masih ada permusuhan.
“Bagaimana mungkin kita menggandeng anggota jika sesama pengelola di kantor masih bermusuhan? Jika kita mampu menguraikan perbedaan dan persoalan di cabang, maka anggota akan datang dengan sendirinya karena merasa nyaman,” pesannya.
Ia berharap setiap kantor cabang menjadi rumah yang penuh rasa kekeluargaan, di mana anggota merasa dihargai meskipun hanya menyetor dalam jumlah kecil.
“Jadikan kantor cabang itu rasa kekeluargaan. Biarkan anggota datang membawa cerita mereka, menimbang kemampuan mereka, dan kita menyambutnya dengan persaudaraan. Itulah sejarah yang harus terus kita tulis di koperasi ini,” tutupnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah bersama sebagai wujud syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang lalu.








