
JAKARTA – Semangat kolaborasi dan penguatan ekosistem usaha lokal mengemuka dalam pembukaan Raya Lokal Market yang digelar di Smesco Exhibition Hall, Jakarta, Kamis (26/2/2026). Kegiatan ini menjadi ruang temu antara pelaku UMKM, pengusaha muda, serta pemerintah dalam mendorong produk lokal semakin kompetitif dan berdaya saing.
Direktur Utama Smesco, Doddy Akhmadsyah Matondang, menegaskan bahwa kemitraan dengan HIPMI bukan sekadar kerja sama seremonial, melainkan langkah strategis membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan.
“Sebetulnya, kepada seluruh jajaran HIPMI, baik yang berada di Jakarta Raya, Jakarta Pusat, maupun rekan-rekan yang sudah hadir di sini — tadi ada Ketua Umum Zaki, mungkin saat ini masih di luar — kami menyampaikan harapan besar agar kolaborasi ini dapat teramplifikasi, tidak hanya di tataran Jakarta Raya, Jakarta Pusat, atau Jakarta Selatan saja,” ujar Doddy.
Ia berharap kolaborasi tersebut berkembang lebih luas dan strategis, tidak hanya berhenti pada acara hari ini, tetapi juga dalam berbagai program lanjutan. Bahkan, ia menyebut Februari sebagai “bulan kolaborasi” antara SMESCO Indonesia dan HIPMI.
“Jika kita urut, pada 11–12 Februari lalu HIPMI bekerja sama dengan SMESCO dalam acara ‘Meet the Market’. Sehari setelahnya, dilaksanakan launching BPP HIPMI Export di tempat yang sama. Minggu lalu juga kami mendapat dukungan dari Ketua Umum dan jajaran untuk berpartisipasi dalam kegiatan industri kreatif di Taman Mini. Dan alhamdulillah, hari ini kita kembali bertemu dalam konteks kerja sama yang semakin konkret,” jelasnya.
62 Tenant, 150 Brand
Raya Lokal Market berlangsung selama tiga hari dengan total 62 tenant dan sekitar 150 brand yang terlibat. Beberapa tenant menghadirkan lebih dari satu brand. Selain itu, terdapat booth kolaborasi lintas kedeputian dari Kementerian UMKM yang menampilkan sekitar 15 brand, serta partisipasi DWP dan berbagai pihak lainnya.
Kegiatan yang secara seremonial dibuka sore hari itu sebenarnya telah dimulai sejak pukul 11.00 WIB. Antusiasme pengunjung terlihat tinggi, dengan rangkaian acara mulai dari sesi pembuka oleh Habib Jafar, Ustaz Alfi, perwakilan Putra Putri Batik, talkshow, hingga penampilan lainnya. Malam harinya dijadwalkan tausiyah dari Ustaz Hasan, serta sesi lanjutan bersama David Halim.
Doddy menekankan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar menghadirkan event, melainkan mempertemukan UMKM potensial dengan pengusaha muda yang siap tumbuh bersama.
“Tujuan utama kami bukan sekadar menghadirkan event, tetapi menciptakan pertemuan antara UMKM yang memiliki potensi dengan para pengusaha muda yang siap tumbuh bersama dan membangun usaha secara kolaboratif. Kami ingin terjadi business matching, peningkatan kapasitas, serta penguatan ekosistem usaha,” tegasnya.
Ia menambahkan, SMESCO membawa semangat spirit of bridging untuk menjembatani berbagai potensi agar kolaborasi dapat memberikan dampak nyata.
“Karena pada akhirnya, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar kesuksesan penyelenggara, melainkan keberhasilan UMKM untuk bertemu dengan pasarnya, berkembang, dan meraih cita-citanya,” tuturnya.
UMKM Perlu Kolaborasi Nyata
Ketua Umum BPD HIPMI Jaya, M. Riandy Haroen, menilai kegiatan ini sebagai bukti konkret sinergi lintas lembaga dalam mendorong UMKM naik kelas.
“Kita terus mendorong bagaimana usaha-usaha kecil ini bisa berkembang dan semakin dekat dengan masyarakat. Tujuannya jelas, agar para pelaku usaha kecil dan menengah dapat tumbuh menjadi pengusaha yang kuat dan berdaya saing di tengah masyarakat,” katanya.
Ia mengakui berbagai tantangan yang dihadapi UMKM tidak dapat diselesaikan sendiri.
“Tantangan-tantangan tersebut tentu tidak bisa kita selesaikan sendiri. Diperlukan kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian UMKM dan SMESCO Indonesia,” ujarnya.
Menurut Riandy, sekitar 70 UMKM telah melalui proses kurasi dalam kegiatan ini, sebuah langkah konkret yang patut diapresiasi. Ia berharap partisipasi dan dampak yang dihasilkan semakin besar pada penyelenggaraan berikutnya.
“Harapan saya, acara-acara berikutnya terus ditingkatkan kualitas dan skalanya, serta benar-benar memberikan manfaat, bukan hanya bagi HIPMI Jaya dan para anggotanya, tetapi juga bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Perluasan Akses Pasar Jadi Kunci
Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, memaparkan capaian sektor ekonomi kreatif nasional. Pada 2025, nilai ekspor produk ekonomi kreatif mencapai sekitar Rp200 triliun atau tumbuh 1,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sektor ini juga mencatat pertumbuhan 5,9 persen, menyerap 27,4 juta tenaga kerja, serta investasi sekitar Rp90 triliun.
“Namun, angka-angka tersebut tidak akan bermakna jika tidak diimbangi dengan perluasan akses pasar yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya memperkuat positioning produk lokal di tengah persaingan, terutama di pasar daring yang rawan distorsi harga.
“Konsumen pada dasarnya tidak mempersoalkan apakah produk tersebut lokal atau impor. Selama harga kompetitif dan kualitasnya baik, maka produk tersebut akan dipilih,” katanya.
Temmy juga menyoroti pentingnya menghargai proses produksi, terutama pada produk bernilai budaya seperti tenun handmade dan batik tulis.
“Namun, saya juga tidak sepakat bahwa produk UMKM harus selalu dijual murah. Jika kualitasnya tinggi dan prosesnya bernilai, maka wajar jika dihargai secara layak demi keberlanjutan usaha,” tegasnya.
Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat regulasi dan pengawasan platform e-commerce agar ekosistem usaha lebih adil bagi UMKM dalam negeri.
Forum seperti Raya Lokal Market diharapkan menjadi pintu awal penguatan produk lokal menuju 2030, sekaligus mendorong masyarakat tidak hanya bangga buatan Indonesia, tetapi juga bangga membeli dan menggunakan produk Indonesia.








