SUMBAWA BESAR—Tidak banyak yang tahu bahwa Sumbawa punya tradisi menenun songket sejak abad ke 14. Motif tenun Sumbawa Besar sudah ada sejak abad ke 14 dan tersimpan di Museum Leiden, Belanda.
Motif itu antara lain, Motif Kengkang Bedayung, terkait kecekatan dan keuletan sebagai cermin perjuangan hidup. Motif ini terinspirasi dari laba laba yang hidup di atas air mengalir.
Ada juga motif Kemang Tonang Tokal, tentang keindahan dalam pribadi setiap wanita yang memiliki kesetiaan dalam kehidupan rumah tangga. Motif ini terinspirasi dari mainan kalung yang dipakai para wanita pada perkawinannya.
Ratna Tenun Songket Sumbawa didirikan oleh Fenco Widjaja pada 2019 agar generasi muda di daerah ini mengenal kembali budayanya. UKM ini berbasis di kota Sumbawa Besar.
Darian Pranata, keponakan Fenco yang bertugas di bagian Sosial Media dan bertindak sebagai juru bicara menyampaikan, UKM ini juga ingin membantu meningkatkan pendapatan penenun tradisional.
Penenun tradisional hanya menggunakan alat tenun gedogan dan beranjak ke alat yang lebih tinggi yaitu ATBM (alat tenun bukan mesin).
Kalau secara tradisional produksinya sangat lama untuk selembar Kain yang membutuhkan waktu satu bulan hingga satu bulan setengah.
Dengan modal awal Rp50 juta, Ratna Tenun Songket Sumbawa mendapat pasar kebutuhan ASN yang membutuhkan tenun corak Sumbawa hingga kebutuhan seragam kantor Bank Indonesia Mataram, hingga memenuhi kebutuhan oleh-oleh orang yang datang ke Sumbawa
“Penjualan 40-50 lembar per bulan dan mendapatkan sekitar Rp15 juta per bulan. Dalam setahun ini kami sudah menjual sekitar produk. Kami memang produksi sesuai pesanan,” ujar Darian.
Ratna Tenun menjadi binaan Bank Indonesia dan mengikuti Karya Kreatif Indonesia sejak 2020. Dia berharap songket ini bisa di kenal di mancanegara. Jika memungkinkan akan mulai mengekspor songket ini.
“Untuk rencana bisnis kami ingin melebarluaskan usaha kami dan memberi kesempatan bagi masyarakat lain untuk belajar cara membuat tenun dan membuat motif tersendiri,” tutup Darian (Van).








