MALANG—Melestarikan budaya melalui aksesoris kawat tembaga dan wayang kulit. Demikian semangat mantan guru Taman Kanak-kanak di Malang, Ratna Ari Sandhy ketika mendirikan Tuladha bersama suaminya Ayusta Kurniawan pada Juni 2016.
Mereka menginginkan usaha aksesoris kawat tembaga yang berbeda dengan yang sudah ada di pasar. Modal awalnya Rp2 juta untuk membeli kawat tembaga dan peralatan seperti tang.
Kreativitas Ratna dan rekannya diminati tidak saja konsumen dalam negeri tetapi juga mancanegara. Pembeli aksesoris kawat tembaga sudah pernah ada orang Jepang dan wayang kulit menjadi suvenir pertukaran pelajar dengan Korea Selatan, Inggris, Singapura, Australia, Rumania.
“Untuk pemasaran melalui luring lewat pameran, datang ke rumah di kawasan Villa Gunung Buring, Cemorokandang, Malang hingga melalui daring,” ungkap Ratna kepada Peluang, melalui Whatsapp, Selasa (12/10/21).
Ternyata di Kota Malang sendiri masih banyak yang belum tahu kerajinan wayang yang dibuat mereka. Justru pelanggannya datang dari Jawa Tengah, Salatiga, Boyolali, Solo dan Semarang kami sudah memiliki banyak pelanggan setia.
Tuladha mempunyai varian produk aksesoris kawat tembaga sebanyak 5 varian dan suvenir wayang kulit sebanyak 4 varian. Usaha Tuladha tercipta seiring dengan permintaan pelanggan, karena pihaknya bisa melayani custom product.
“Selain itu kami mengikuti go digital maka usaha kami pun bisa berkembang,” tambahnya.
Dia menceritakan wayang dibuat sesuai pakemnya dengan ukuran terkecil hingga ukuran standar yang digunakan dalam pagelaran wayang. Ukurannya mulai dari 25 sentimeter, 35 sentimeter maupun ukuran standar sesuai dengan permintaan pembeli.
“Untuk beli produk wayang kami harus pesan terlebih dahulu, karena untuk satu buah wayang membutuhkan estimasi pembuatan satu minggu,” ungkap Ratna.
Dikatakannya, kapasitas produksi aksesoris 10 pieces / bulan ( disesuaikan dengan permintaan customer ) kisaran harga Rp50k -Rp 2,5juta. Sementara kapasitas produksi suvenir wayang kulit 50 – 100 pieces per bulan dengan kisaran harga Rp25 ribu hingga Rp1,5 juta.
Ratna mengaku usahanya juga terdampak pandemi ditandai dengan menurunnya permintaan konsumen seiring tidak adanya pameran dan kunjungan ke galeri.
“Untuk mensiasatinya kami melakukan pemasaran lewat marketplace , IG , GMB dan kami tetap produksi meskipun di tengah-tengah pandemi Covid-19,” ucap Ratna.
Ke depan Ratna menyampaikan memperkuat pemasaran secara daring dan membuat galeri kecil untuk pameran produk Tuladha (Irvan).





