YOGYAKARTA—Nama lengkap milenial ini Stanislaus Paramayudha Nararya. Usianya baru 20 tahun. Statusnya masih menjadi mahasiswa Akuakultur, Fakultas Perikanan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Namun remaja yang karib disapa Rama ini sudah menunjukkan dirinya menjadi calon entrepreneur masa depan.
Lewat brand Yekafish, warga Baciro, kota Yogyakarta ini mampu melakukan budi daya ikan hias jenis guppy dan corydoras. Bukan saja sekadar jualan ikan hias untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga sudah memasarkannya hingga ke seluruh provinsi di Jawa hingga Sumatera dan Kalimantan.
“Saya juga sudah menyetor ke pengepul untuk ikan jenis corydoras sebanya 5.000 ekor dan oleh pengepul, ikan ini diekspor. Untuk jenis guppy, bahkan sudah ada pemesan dari Philipina dan India,” ujar remaja kelahiran 11 November 2000 ini kepada Peluang, Jumat (27/8/21).
Meskipun untuk memenuhi kebutuhan pemesan ikan guppy ini, Rama mengaku terdampak pandemi Covid-19. Pasalnya jadwal penerbangan tertunda dan biaya ongkos kirim yang tinggi membuat pengiriman dipending.
Terjun ke wirausaha sebagai pembudidaya berangkat dari kecintaannya terhadap ikan hias sejak duduk di bangku SD. Dia memilih Guppy untuk kualitas karena ikan itu diperuntukan untuk kontes dan untuk kuantitas ialah corydoras. Yekafish sendiri berdiri pada Juni 2019 dengan memanfaatkan lahan 40 meter persegi.
“Kebetulan daerah Yogyakarta belum ada yang membudidayakan ikan corydoras . Sementara waktu pandemi orang bosan tinggal di rumah dan butuh hiburan memelihara ikan hias. Penjualan ikan hias boleh dibilang meningkat dua kali lipat dibanding normal, terutama awal pandemi,” ungkap Rama.
Ikan guppy dibandroll dengan harga Rp10 ribu hingga Rp1 juta per pasang, sementara corydoras Rp1.000 hingga Rp4.5000 per ekor. Dalam satu minggu Yekafish mampu memproduksi seratus ekor per minggu, sementara guppy hanya untuk kebutuhan kontes ikan hias tidak ditargetkan jumlah.
Meskipun boleh dibilang cukup sukses bagi rata-rata anak muda seusianya berwirausaha, Rama mengaku skala masih usaha rumahan kecil dengan omzet minimal Rp1,8 juta per bulan. Sekali-sekali pernah meraup hingga Rp5 juta.
“Biaya kuliah saya masih dibiayai orangtua kok, tetapi uang jajan sudah saya sendiri,” kata dia merendah.
Ke depan, Rama melirik budi daya pakan alami. Selama ini pakan hias ialah sejneis kutu air. Kini dia mencoba plankton air laut yang mengandung protein yang lebih tinggi yang lebih dicari ikan hias. Para penggemar ikan hias mencari pakan jenis ini.
“Peluang dan prospeknya sangat bagus. Saya serius di bisnis budi daya ikan hias ini dari hulu ke hilirnya,” tutup Rama, seraya mengatakan serius jadi entrepreneur (Irvan).





