JAKARTA—Salah satu unit kerja di bawah BSKJI Kemenperin, Balai Besar Tekstil (BBT) mencatat kinerja gemilang pada 2021.
Unit ini telah melaksanakan konsultansi program Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (Dapati) sebanyak dua kali untuk meningkatkan produktivitas dan perbaikan kualitas produk.
Di antara sasarannya, Kelompok Tunas Mekar Batu Bura, Kampung Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dan PT. Cofo Kreatif Indonesia, Kecamatan Beo Utara, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
“Kedua produk kain tenun Ulap Doyo Kalimantan Timur dan kain tenun Koffo khas Sangihe-Talaud merupakan warisan budaya asli yang masih dipertahankan masyarakat setempat,” ungkap Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi.
Menurutnya, serat alam memiliki potensi untuk dijadikan bahan baku tekstil alternatif. Dalam kampanye Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) dan target substitusi impor 35% pada 2022, membutuhkan percepatan dalam upaya pengembangan industri serat alam yang mengedepankan kemampuan pemenuhan kebutuhan bahan baku (kapasitas produksi) serta kualitas mutu yang memadai
Melalui kegiatan Dapati, dilakukan pendampingan untuk peningkatan kualitas serat tekstil dengan jalan memperbaiki kehalusan serat sehingga proses pemintalan dan pertenunan menjadi lebih mudah, dan produk akhir kain akan lebih baik dari sisi kehalusan dan kenyamanannya.
“Dengan kualitas serat yang lebih baik, akan meningkatkan nilai tambah produk dan dapat diaplikasikan pada produk akhir yang lebih banyak,” imbuhnya.
Menurut Pembina Kelompok Tunas Mekar Batu Bura yang diwakili oleh Myra Widiono, permasalahan untuk industri kriya tekstil adalah lamanya proses di setiap tahapan pengolahan serat dari proses pelunakan serat hingga pencelupan warna yang harus diulang hingga beberapa kali.
“Dengan metode biodegumming ini, kami cukup melakukan satu kali proses saja dan sudah dapat memperoleh hasil serat yang halus sekaligus penyerapan warnanya lebih sempurna,” jelasnya.
Di lokasi lain, perwakilan PT. Cofo Kreatif Indonesia, Sam Pantouw menyampaikan bahwa kendala yang dihadapi adalah hasil tenunan kain yang masih kasar dan kurang nyaman digunakan.
“Dengan adanya bimbingan teknis dari BBT diharapkan produk akhir kain dapat lebih halus dan nyaman digunakan, serta mampu menaikkan kapasitas produksi. Hal ini akan membuka potensi ekspor bagi kain tenun Koffo,” ungkapnya.
Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kemampuan industri dalam negeri agar bisa lebih berdaya saing global.
Sektor yang turut dipacu adalah industri kecil dan menengah (IKM) karena dari jumlah unit usahanya yang mendominasi di tanah air, akan berperan besar dalam mendongrak pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jumlah pelaku IKM mencapai 4,4 juta unit usaha atau berkontribusi sebesar 99,77% dari total sektor industri secara keseluruhan. Selama ini IKM menjadi tulang punggung bagi perekonomian nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Kamis (4/11/21).








