banner iklan sticky 160x600px sidebar kiri
banner iklan 160x600 sidebar kanan
Opini  

Prodeo

NOMENKLATUR Lapas Sukamiskin itu anomali, bahkan paradoks. Di situ berhimpun rampok-rompak uang negara/rakyat. Koruptor. Mereka merdeka beraktivitas secara ‘normal’, termasuk facial dan ngantor. Tanpa kekurangan suatu apa. Para begundal melakoni business as usual. Berulang kali digerebek dan dibongkar. Baik oleh Denny Indrayana, Wamenkumham era Presiden SBY, maupun oleh Budhi Waseso, Kepala BNN.

Penangkapan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen, memperpanjang rangkaian praktik suap di dalam hotel prodeo. Kamar mewah diperjualbelikan petugas Lapas dengan harga bervariasi, Rp200—Rp500 juta. Kamar-kamar bisa ditambahkan fasilitasnya dengan AC, dispenser, televisi, kulkas, telepon seluler, hingga kelonggaran jam bezoek. Di pengadilan, hebatnya, Wahid Husen umbar cengengesan kian ke mari.

Sudah rahasia umum, Lapas Sukamiskin itu surganya lanun kerah putih. Pemindahan mereka saja mirip rombongan wisata papan atas. Yang spektakuler, Yasonna Laoly mengaku sejak menjabat Menkumham, lima kali sudah Kalapas Sukamiskin diganti. Ironisnya penggantian itu lantaran sebab yang sama: jual beli fasilitas mewah di dalam penjara. Otoritas tertinggi di Kemenkumham mendapat tekanan dari berbagai pihak agar mundur. Masalahnya tradisi seorang pejabat mundur karena kesalahan aparat di institusinya belum menjadi tradisi.

Disusun ke belakang, daftar praktik suap di Lapas/Rutan yang terekspos lumayan panjang. Napi Haryanto Chandra alias Gombak, 31 Mei 2017, waktu disidak, ketahuan punya ruangan sel mewah di Lapas Cipinang. Gembong narkoba Freddy Budiman; September 2013, menghuni kamar mewah dan punya ‘bilik asmara’ di Lapas Cipinang. Vanny Rossyane, model syur majalah dewasa, salah satu teman kencan Freddy, blak-blakan mengakui keikutsertaannya sebagai ‘partisipan’. Lalu, napi Agusrin Najamuddin, 18 Mei 2013, didapati menempati ruangan mewah di sel No. 38 Lapas Sukamiskin.

Gayus HP Tambunan, 4 November 2010, keluar dari Rutan Mako Brimob Kelapa Dua dengan menyuap sejumlah petugas. Kasus ‘izin off dari sel’ itu terungkap saat fotografer Kompas melihat sosok ‘mirip Gayus’ tengah nonton tenis di Bali. Yang lainnya, Ayin. Disidak di Rumah Tahanan Negara  Kelas IIA Pondok Bambu, Jaktim, 10 Januari 2010; Artalyta Suryani alias Ayin didapati menghuni kamar mewah di Blok Anggrek No. 19. Dia tinggal dilayani Asmiyati, aspri/terpidana.

Kenapa perilaku (petugas) lapas sedemikian manusiawinya? Apa karena modifikasi namanya menjadi lembaga pemasyarakatan—gegara lagu “Hidup di Bui” yang dilantunkan Sam, grup band D’Lloyd tahun 80-an: “Apalagi penjara Tangerang… Masuk gemuk pulang tinggal tulang” dan bukan lagi penjara? Sampai-sampai bermetamorfosis jadi ajang aman sentosa untuk bertransaksi, bahkan pusat kendali, bisnis psikotropika?

Penjara pertama dikenal di Inggris awal abad ke-17, dinamai London Bridewell. Masyarakat menyebutnya ‘rumah koreksi’. Tahun 1791, Bentham ajukan konsep penjara yang lebih human. Disempurnakan tahun 1799 sebagai tempat yang berfungsi menghukum sekaligus merehabilitasi pelaku kejahatan. Hanya di Nusantara terdapat penjara yang luar biasa ramah narapidana.

 

Salam,

Irsyad Muchtar

iklan investasi berjangka octa.co.id
download aplikasi android peluang news
iklan investasi berjangka octa.co.id