
PeluangNews, Paga – Di sebuah sudut sunyi di Watuwawi, Desa Paga, Nusa Tenggara Timur (NTT) hidup sepasang lansia dalam kesederhanaan yang nyaris luput dari perhatian.
Rumah mereka kecil—nyaris hanya cukup untuk berteduh. Dindingnya sederhana, tanpa fasilitas dasar yang layak. Tak ada kamar mandi. Tak ada anak yang menemani hari-hari senja mereka. Hanya ada Bapak Sisu dan Mama Mbindi, menjalani hidup berdua dalam keterbatasan.
Setiap pagi, Bapak Sisu yang telah berusia sekitar 70 tahun masih berjalan keluar rumah, menggarap lahan milik orang lain demi sekadar menyambung hidup. Sementara di dalam rumah, Mama Mbindi hanya bisa menunggu. Penglihatannya telah hilang. Dunia baginya kini gelap.
Namun kehidupan harus tetap berjalan.
Tak ada keluhan yang mereka suarakan keras-keras. Hanya kesunyian yang perlahan mengisi ruang-ruang hari mereka.
Hingga suatu hari, perhatian itu datang.
Baca Juga: Transformasi Menuju Holding Company, Kopdit Pintu Air Targetkan Kemandirian Ekonomi Anggota
Adalah Komite dan manajemen KSP Kopdit Pintu Air Cabang Paga yang tergerak melihat kondisi pasangan tersebut. Di tengah suasana prapaskah—momen refleksi dan kepedulian—hati para karyawan terketuk.
Mereka tidak menunggu program besar. Tidak pula menunggu instruksi. Dari inisiatif sederhana, mereka mengumpulkan dana secara swadaya.
“Kami melihat langsung kondisi mereka. Rumahnya kecil, sangat sederhana. Kami merasa harus melakukan sesuatu,” ujar Ketua Komite Cabang Paga, Maria Erminolda Deta.
Bantuan itu mungkin tak besar bagi sebagian orang. Hanya paket sembako: beras, minyak, gula, teh, mi instan, telur, dan perlengkapan mandi.
Namun bagi Sisu dan Mbindi, itu lebih dari sekadar bantuan.
Itu adalah tanda bahwa mereka tidak sendiri.
Perjalanan menuju rumah mereka pun tidak mudah—sekitar satu kilometer dari kantor cabang. Tapi jarak itu tak terasa berarti ketika empati menjadi alasan utama.
Saat bantuan itu tiba, suasana berubah. Wajah yang biasanya tenang dalam diam, perlahan memancarkan rasa haru.
“Kami bersyukur… terima kasih sudah datang dan membantu kami,” ucap Bapak Sisu lirih.
Di usia yang tak lagi muda, di tengah kondisi yang serba terbatas, perhatian kecil bisa menjadi cahaya yang besar.
Kisah Sisu dan Mbindi mengingatkan kita: kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang, ia datang dari kepedulian sederhana—yang tepat waktu, dan tepat sasaran.
Dan di Watuwawi hari itu, kepedulian itu benar-benar sampai. (Aji)








