JAKARTA—Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengakui PPKM darurat di wilayah Jawa dan Bali merupakan kebutuhan bersama, termasuk masyarakat luas untuk bisa menekan laju penyebaran Covid-19.
Meksipun demikian Hipmi menilai kebijakan ini langkah mundur dari pemerintah. Hanya saja jika berhasil bakal memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional pada kuartal III tahun ini.
Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Himpi), Ajib Hamdani mengatakan, idealnya pemerintah semestinya menetapkan kebijakan lockdown.
Hanya saja kata dia pemeirntah pemerintah mempertimbangkan terdapat dua hal mendasar, yakni masalah data base penduduk yang belum terintegrasi serta alokasi dana sebagai konsekuensi kebijakan.
Dengan Produk Domestik konsumsi sekitar 57 persen atau sekitar Rp8.797 triliun, maka pemerintah membutuhkan dana sekitar Rp169 triliun setiap minggu.
“Jika pemerintah menerapkan kebijakan ini selama dua minggu, maka pemerintah memerlukan anggaran Rp338 triliun. Kebutuhan besar itu yang menjadi pertimbangan pemerintah memilih PPKM darurat menjadi jalan tengah,” ujar Ajib dalam keterangan tertulis, Jumat (2/7/21).
Ajib menyarankan pemerintah harus mendorong dua hal. Pertama, terus mengedukasi pentingnya disiplin protokol kesehatan. Kedua, mengakselerasi program vaksinasi sehingga target pemerintah bisa terealisasi dengan awal 2020 sudah lebih 70 persen penduduk sudah tervaksin.
Dari sisi ekonomi, pemerintah sangat optimis kuartal kedua bisa tumbuh sampai dengan 7 persen. Nah, menurut Ajib, angka itu seharusnya dikoreksi karena pada akhir kuartal kedua, sudah mulai terjadi lonjakan Covid-19 dan momentum lebaran kurang maksimal memberikan kontribusi karena terjadi banyak pembatasan.
“Ini membuat aliran orang dan aliran uang agak terhambat. Tetapi, secara umum dalam konteks ekonomi, kuartal ketiga sedang mengalami momentum yang positif,” tegas Ajib.
Tren pertumbuhan ekonomi kuartal pertama masih pada angka minus 0,74 persen, kemudian diperkirakan bisa positif di kuartal kedua.
Selain itu, indikator purchasing manager’s index (PMI) juga dalam tren yang positif. Bulan Maret PMI di angka 53,2 kemudian April menunjukkan angka 54,6 dan Bulan Mei terus naik ke 55,3.








