
PeluangNews, Maumere – Pukul 07.12 WITA, Sabtu (10/10/2026) pagi tadi, sebuah mobil tangki berlogo Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka merayap pelan memasuki Kampung Siku, RT 10, Dusun Eha, Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Belum sempat mesin dimatikan, puluhan warga sudah berbondong datang. Bukan dengan ponsel untuk foto, tapi dengan jeriken kuning, ember hitam, dan bak penampung plastik. Di wajah mereka bukan euforia, tapi lega. Seperti menunggu sesuatu yang lebih berharga dari emas yang hari ini harganya Rp2,5 juta per gram di Jakarta.
“Warga kemudian harus mengambil air dari gunung pakai motor. Karena debit air kecil, biasanya setiap hari kami menunggu berjam-jam sehingga warga mulai ambil air jam 4 subuh, kadang ada warga yang bermalam karena menunggu air,” ujar Laurensius Laka, warga RT 10 Dusun Eha, kepada TajukNTT.id.
Kalimat itu diucapkan dengan datar, tanpa drama. Padahal, jika kita resapi, itu adalah potret kelelahan kolektif.
Desa Wolomotong dihuni 2.724 jiwa atau 720 kepala keluarga. Semuanya terdampak. Krisis ini bukan baru kemarin sore. Ia dimulai sejak Juli 2026. Dua mata air yang selama ini menjadi nadi kehidupan, Kaki Wair dan Wairret, perlahan mengering.
Awalnya warga masih berharap. Mereka masih bisa menimba, meski harus menunggu berjam-jam di mulut mata air yang menetes pelan seperti infus. Lalu Agustus datang, bukan membawa hujan, tapi gempa.
Pada 15 Agustus 2026, gempa tektonik mengguncang Flores. Dampaknya bukan hanya rumah retak dan sekolah retak. Bak penampungan utama di mata air Wair Matan Gete, yang dibangun pemerintah untuk menampung air sebelum dialirkan ke rumah warga, retak besar.
“Bak tampungnya bocor sehingga air tidak bisa tertampung di bak. Itu salah satunya saat gempa, baknya bocor. Retaknya cukup besar. Jadi airnya keluar semua,” kata Kepala Desa Wolomotong, Sergius Sareng.
Sejak bak itu bocor, air yang seharusnya ditampung untuk 720 KK itu langsung hilang meresap ke tanah. Pemerintah desa sudah mendokumentasikan kerusakan dan melapor ke Pamsimas, ke BPBD.
Pada 29 September 2026, surat resmi permohonan bantuan air bersih dikirim ke BPBD Sikka. Sergius bahkan dua kali mendatangi kantor BPBD, tapi kantor kosong. Akhirnya ia hanya bisa mengirim pesan WhatsApp ke Sekretaris BPBD. Sambil menunggu birokrasi bergerak, warga bergerak sendiri.
Jika di Jakarta kita mengeluh air PDAM keruh, di Wolomotong, orang harus naik motor ke gunung untuk mencari tetesan air di tebing-tebing. Di Desa Wolomapa yang bertetangga, warga bahkan harus menyusuri bukit terjal 1 kilometer, menampung air hujan, dan jika tak cukup, membeli air tangki 5.000 liter dengan harga Rp250 ribu hingga Rp600 ribu. Di desa dengan pendapatan sebagian besar petani, angka itu setara dengan uang makan seminggu.
Hari Jumat kemarin (9/10), PMI menyalurkan air ke Dusun Legar. Hari Sabtu ini (10/10), giliran Dusun Eha. Dua relawan PMI Sikka, Arnol Lado dan Etus, menjadi wajah yang paling ditunggu. Mereka bukan pejabat. Mereka hanya relawan dengan mobil tangki pinjaman dari PMI Pusat.
“Jujur saja mobil tangki yang saat ini juga itu pinjaman dari PMI Pusat dengan batas waktu selama proses tanggap darurat bencana ini,” ujar Koordinator Tanggap Darurat Bencana PMI Sikka, Octavianus Aryo Adityo.
Secara SDM, PMI Sikka siap. Tapi sarana terbatas. Satu tangki pinjaman harus melayani ribuan jiwa yang tersebar di bukit-bukit. Jalan rusak, ban pecah, itu risiko harian Etus dan kawan-kawan.
Di Kampung Siku pagi ini, seorang ibu, mari kita sebut Mama Yulita, memeluk jerikennya erat. Ia datang sejak jam 5 subuh, setelah semalam begadang menjaga antrean di mata air yang hampir kering. Air dari PMI ini akan ia pakai untuk masak, untuk anaknya minum sebelum berangkat sekolah, untuk cuci piring. Mandi? Mungkin nanti sore, jika masih sisa.
Di saat yang sama, di Jakarta, harga Bright Gas 5,5 kg naik jadi Rp107.000, harga emas naik, dan kita berdebat soal B50 dan rekor beras Bulog 4,1 juta ton.
Kontras itu menyakitkan, tapi perlu ditulis.
Wolomotong bukan meminta dikasihani. Mereka hanya meminta hal paling dasar dalam hidup: air bersih. Pemerintah desa sudah mengajukan sumur bor. Kementerian PU bahkan sudah menjajaki teknologi konversi air laut jadi tawar untuk Pulau Palue yang juga terdampak gempa, bekerja sama dengan BRIN. Tapi teknologi itu masih jauh untuk Eha.
Hari ini, air dari tangki PMI itu habis dalam satu jam. Jeriken-jeriken kembali kosong besok. Dan warga akan kembali antre jam 4 subuh.
Jika swasembada pangan diukur dari 4,1 juta ton beras, dan kedaulatan energi diukur dari stop impor solar, maka kedaulatan kemanusiaan seharusnya diukur dari apakah seorang ibu di Wolomotong masih harus bermalam demi setetes air di tahun 2026 ini.
Warga Wolomotong menyampaikan terima kasih kepada PMI Sikka pagi ini. Tapi terima kasih itu, seharusnya membuat kita semua malu.[]








