MANDAR–-Kementerian Pertanian mencatat produksi kopi di Provinsi Sulawesi Barat meningkat pesat dari 3.198 ton pada 2018 menjadi 4.132 ton pada 2019. Sementara produksi pada 2020 dan 2021 diperkirakan stabil di antara 4.300-an ton.
Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar pada akhir 2020 lalu menyampaikan akan menggenjot produksi kopi, karena merupakan salah satu komoditas pertanian yang punya potensi ekspor. Paada waktu itu gubernur mengatakan, kopi di daerahnya sudah di ekspor ke Dubai dan Bahrain.
Direktur pusat riset kopi dan kakao (Puriskoka) Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman), Harli A Karim.membenarkan bahwa saat ini animo petani di Sulbar untuk menanam kopi sangat tinggi. Namun masih ada beberapa kendala yang dihadapi pertanian kopi di wilayah ini.
“Petani kopi membutuhkan perlindungan hargam agar para petani bisa menjaga produksi kopinya dan perlindungan harga akan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Harli, Senin (11/10/21).
Menurut Harli, kopi hasil produksi petani di Sulbar masih dihargai sangat rendah. Padahal seharusnya mereka bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.
“Hasil penjualan kopi petani hanya sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per liter. Sementara ketika kopi di sejumlah kafe dan restoran dijual dengan harga yang sangat tinggi untuk setiap gelasnya,” katanya.
Harli meminta intervensi pemerintah dalam menjaga harga agar petani tidak jenuh menanam kopi dan mendapatkan keuntungan serta produksi kopi Sulbar tetap terjaga.
“Seharusnya harga kopi di tingkat petani bisa lebih tinggi jika merujuk permintaan kopi dalam dan luar negeri yang semakin tinggi,” katanya.
Selain itu pasar penjualan petani ditata pemerintah karena kopi Sulbar kualitasnya sangat bagus diminati baik di dalam negeri hingga Eropa.





