hayed consulting
hayed consulting
octa vaganza
Energi  

PLN Indonesia Power Luncurkan Mesatua Bali, Ubah Limbah Jadi Pupuk

PLN Indonesia Power Luncurkan Mesatua Bali, Ubah Limbah Jadi Pupuk
PLN Indonesia Power Luncurkan Mesatua Bali, Ubah Limbah Jadi Pupuk, Minggu (31/8)/dok.PLN

PeluangNews, Jakarta — PT PLN Indonesia Power (PLN IP) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bali PLTG Gilimanuk menghadirkan program inovasi pengelolaan limbah sampah bertajuk Mesatua Bali (Mengelola Sampah untuk Alam Bali Lestari). Program ini mendukung transisi energi berkelanjutan sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir Bali.

Direktur Utama PT PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, mengatakan Mesatua Bali hadir untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan, mulai dari tingginya volume limbah pelabuhan, rumah tangga, abrasi pantai, penggundulan hutan taman nasional, hingga keterbatasan akses ekonomi masyarakat rentan.

“Berangkat dari tantangan tersebut, Mesatua Bali menjadi solusi berbasis komunitas yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi sosial dan ekonomi,” ujar Bernadus di Jakarta, Minggu (31/8).

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, program ini mengolah dua jenis limbah:

  • Limbah organik seperti rumah tangga dan industri rumahan yang diubah menjadi pupuk organik cair multiguna.

  • Limbah anorganik terutama diapers yang diolah menjadi media tanam untuk pembibitan buah dan sayur.

Kedua limbah tersebut diolah dengan memanfaatkan sisa produksi perusahaan berupa air reject demineralisasi. Menurut Bernadus, pemanfaatan limbah air demineralisasi dan diapers sebagai media tanam merupakan terobosan baru yang pertama kali diimplementasikan di Kabupaten Jembrana, Bali.

Program ini telah melibatkan 13 anggota kelompok Suketeki, memperluas manfaat ke 65 petani dari lima gapoktan, serta membuka lapangan kerja bagi 34 pemuda lokal. Dukungan pemerintah daerah pun menguat dengan terbitnya Pararem Desa Adat Nomor 1 Tahun 2025 di Kelurahan Gilimanuk, Jembrana.

“Mesatua Bali membuktikan bahwa inovasi sosial bisa menjadi jembatan antara energi dan kehidupan. Keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana kita membangun masa depan bersama, dari desa hingga dunia,” tegas Bernadus.

Sejumlah capaian telah diraih, antara lain:

  • Penjualan pupuk organik cair 150–200 liter per bulan.

  • Penanaman 100 pohon cemara pantai untuk mitigasi abrasi.

  • Penghijauan lahan tandus di Taman Nasional Bali Barat.

  • Pengurangan limbah diapers dan metana dari limbah organik.

  • Peningkatan pendapatan kelompok lewat penjualan pupuk dan bibit.

  • Replikasi program ke Jembrana dan Banyuwangi.

Selain itu, program ini menjadi pusat pembelajaran masyarakat dengan modul edukasi “Zero Waste Komunitas” dan kunjungan dari sekolah maupun akademisi. Kolaborasi juga dilakukan dengan TPA Ash-Shiddiqiyyah di Negara, Jembrana, melalui program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) yang menyentuh ranah pendidikan dan ketahanan pangan keluarga.

“Mesatua Bali menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari hal sederhana: dari diapers menjadi media tanam, dari limbah menjadi pupuk, dan dari komunitas menjadi pusat inovasi,” pungkas Bernadus. (RO)

pasang iklan di sini