Suatu ketika Jakobus Jano berseloroh, ada tiga keajaiban yang diberikan Tuhan kepada provinsi NTT, pertama Danau Kelimutu, kedua Labuan Bajo dan ketiga Koperasi Kredit Pintu Air.
Awalnya memang sekadar seloroh, tetapi Jakobus Jano, Ketua Pengurus Kopdit Pintu Air menyampaikan hal itu dengan mimik serius. Ia punya mimpi besar bahwa koperasi yang dibangunnya sejak 1995 mampu menjadi salah satu tonggak kebangkitan ekonomi masyarakat Kabupaten Sikka dan bumi NTT umumnya.
Jano memang serius yang ditunjukkan melalui kerja keras dan cerdas. Dalam rentang dua dasawarsa, ia berhasil mengangkat nama Kopdit Pintu Air yang semula hanya terdengar sayup-sayup sampai dari sebuah desa di pinggiran kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, kini menyembul di pentas nasional. Pintu Air tidak hanya menjadi pemuncak koperasi kredit terbaik tingkat nasional, Jano pun mengembangkan usaha berbasis anggota melalui pendirian beberapa anak perusahaan, antara lain pasar swalayan, pabrik minyka kelapa, garam, pertanian dan pariwisata.
“Kami ingin anggota Kopdit Pintu Air tidak hanya sekadar menerima keuntungan dari SHU, tetapi kita kembangkan juga potensi usaha masing-masing sehingga nilai tambah ekonominya meningkat,” kata Jano.
Khusus pariwisata, koperasi ini ‘menyulap’ sebuah pantai di pinggiran kota Maumere yang semula kawasan hutan kelapa menjadi destinasi wisata pantai yang ciamik.
Mengapa juga tertarik dengan pengembangan pariwisata yang sebenarnya jauh dari bisnis inti Kopdit Pintu Air? “Saya hanya ingin menerjemahkan keinginan bapak Gubernur NTT Viktor Laiskodat, “ ujar Jano. Awalnya, pada 6 Oktober 2020 ia bersama Pengurus Kopdit Pintu Air melakukan audiensi ke kantor Gubernur NTT untuk meminta kesediaan menghadiri dan sekaligus meresmikan berdirinya pabrik minyak kelapa produksi anak perusahaan Kopdit Pintu Air.
Permintaan itupun dipenuhi oleh Gubenur namun ia ingin dicarikan tempat makan siang yang nyaman di tepi pantai Maumere. Keinginan itu dipenuhi oleh Jano, dan kemudian lahirlah ide membangun destinasi wisata Pintu Air Asia Beach (Pintar Asia Beach).
Pintar Asia Beach yang diresmikan setahun lalu, tepatnya pada 28 Oktober 2020, kini memasuki usia tahun pertama. Infrastrukturnya memang belum bisa disandingkan dengan destinasi wisata pantai lainnya. Tetapi, tukas Jano, ia harus berani memulai agar Sikka juga dapat bersanding dengan daerah lain sebagai destinasi wisata pantai yang boleh diandalkan.
Saat peringatan setahun beroperasinya Pintar Asia Beach, Kamis (28/10/2021) Jano mengajak segenap anggota KSP Pintu Air untuk tidak ragu-ragu mewujudkan visi dan misi serta selalu mengandalkan Tuhan dalam pekerjaan. “Semua keberhasilan yang telah diraih adalah campur tangan dari Tuhan, kerena jika bekerja tanpa campur tangan Tuhan Pintar Asia Beach tidak bisa berkembang pesat seperti saat ini.” ujarnya. Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi yang terus bekembang pesat, Jano menekankan pentingnya membangun sistem jaringan agar bendera bisnis Pintu Air terus berkibar.
Saat ini Pintar Asia Beach yang ditumbuhi puluhan gazebo telah memiliki Resto dengan berbagai jenis makanan dan minuman. Juga melayani sewa lokasi untuk acara-acara seperti pernikahan dan melayani catering. Jano mengingatkan bahwa Pintu Air dengan semua anak perusahaannya bukan milik pengurus, tapi milik semua anggotanya yang terdiri dari para nelayan, tani, ternak dan buruh. (Irm)





