BANDA ACEH—Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh meminta pemerintah segera mengatasi kelangkaan pupuk yang dialami petani sawit dengan melakukan inovasi pupuk organik.
Sekretaris Apkasindo Aceh Fadhli Ali menyampaikan, pupuk yang diproduksi nantinya juga harus berbahan baku lokal serta dihasilkan dari tenaga lokal, langkah tersebut juga mendukung adanya pupuk murah dan berkualitas di Aceh.
“Saat ini harga tandan buah segar (TBS) sawit di Aceh tinggi, namun biaya pembelian pupuknya juga mahal, kondisi tersebut tidak akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani sawit lebih baik. Belum lagi produksi TBS saat ini juga menurun,” ungkap Fadli, Senin (11/10/21).
Lanjut dia, harga pupuk di Aceh cukup tinggi, tidak hanya yang diambil melalui distributor, tetapi juga pada tingkatan petani.
Pemerintah daerah harus menaruh perhatian terhadap permasalahan tersebut, dan jangan sampai kondisi ini terus berulang-ulang.
“Harga beli sawit Aceh pada tingkatan petani di Aceh masih berada di bawah Rp2.000 per kilogram. Padahal, harga beli sawit di pabrik sudah melebihi Rp2.000 per kilogram,” tambahnya.
Dikatakannya, Aceh memiliki sumber daya manusia yang cukup, hanya saja perlu bersinergi serta kolaborasi guna menghadirkan pupuk berbahan dasar organik demi mengatasi kelangkaan pupuk.
“Di Aceh banyak profesor dan doktor yang memiliki berbagai ilmu berkaitan dengan tanaman, pupuk dan lain-lain, ini harus dibangun dengan sinergitas bersama pemerintah daerah,” pungkas Fadhli.





