KUPANG—Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa tenggara Timur mencatat bahwa luas lahan cabai pada 2019 mencapai 2.386 hekatare meningkat dari 2018 seluas 2.019 hekatare.
Namun jumlah itu masih belum mencukupi karena ada wilayah yang masih defisit, yaitu kabupaten Kupang, yang maish defisit cabai sebesar dua ribu ton per tahun. Untuk itu Kementerian Pertanian mendorong pengembangan kawasan cabai di wilayah defisit ini.
Pada 2020, NTT mendapatkan alokasi pengembangan kawasan cabai seluas 626 hektare yang tersebar di 19 Kabupaten. Tak hanya itu NTT juga mendapatkan alokasi pusat seluas 90 ha, tersebar di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nagekeo dan Belu.
Di tengah kondisi lahan kering, gersang dan berbatu yang merupakan ciri khas lahan Pulau Timor, Jonathan, salah satu petani sehari-hari membudidayakan cabai dengan menggantungkan air berasal dari sumur bor. Sumur bor ini dibuatnya sendiri dengan biaya senilai Rp50 juta.
“Saya membuat sumur bor dengan modal Rp50 juta. Biaya listrik dari awal tanam hingga panen yang menghabiskan Rp 5 juta dan ini betul-betul modal saya untuk giat menanam cabai,” ujar Jonathan.
Tak hanya itu, hasil usaha tani cabai memang sangat menjanjikan. Salah satu petani lain di Kelurahan Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Mama Ana berhasil menyekolahkan 2 dari 5 anaknya hingga lulus sarjana.
“Anak saya ada lima orang dan dua orang sudah lulus sarjana. Semua biayanya dari hasil usaha tani cabai dan sayuran. Lahan saya ada kurang lebih 1 hektare yang selama ini tempat saya menggantungkan hidup,” ujar Mama Ana bangga.
Begitu juga halnya dengan Mama Dina, cerita sukses dari hasil usaha tani cabainya selama setahun berhasil mengubah rumah kayu dan rumbai-rumbai menjadi rumah beton yang megah. Tahun ini Mama Dina mendapatkan alokasi APBN untuk pengembangan cabai seluas 2 hektare.
Menanggapi tingginya semangat petani cabai Kasubdit Aneka Cabai Kementerian Pertanian Dessi Rahmaniar berharap bantuan bukan saja membuat semangat usaha taninya semakin tinggi, tetapi juga pendapatannya terus meningkat.
“Produksi cabainya mampu menyumbang kebutuhan cabai untuk wilayah Kupang dan sekitarnya,” tutup Desi.








